Masji Al Haram

Masji Al Haram
Tampilkan postingan dengan label Dakwah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Dakwah. Tampilkan semua postingan

Selasa, 14 Februari 2012

Apa Yang Harus Dilakukan Seorang Da'i


Oleh : Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin 


Pertanyaan.
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya : Ada sebagian orang yang kami anggap cukup konsisten dengan agama memperlakukan orang lain dengan sikap yang agak keras dan kasar, bahkan ada juga yang kadang wajahnya tampak masam. Apa nasehat Syaikh untuk mereka. Apa kewajiban seorang muslim terhadap saudaranya sesama muslim, terutama orang yang kurang konsisten dalam beragama ?

Jawaban.
Yang ditunjukkan oleh sunnah yang suci, yaitu sunnah Nabi
صلی الله عليه وسلم, bahwa yang wajib atas setiap insan adalah mengajak orang lain ke jalan Allah سبحانه و تعالى dengan hikmah, lembut dan mudah. Allah سبحانه و تعالى telah berfirman kepada NabiNya, Muhammad صلی الله عليه وسلم.

“Artinya : Serulah (manusia) kepada jalan Rabbmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik” [An-Nahl : 125]

Dalam ayat lain disebutkan.

“Artinya : Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu ma’afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka” [Ali-Imran : 159]

Dan ketika Allah memerintahkan Musa dan Harun untuk menemui Fir’aun, Allah berfirman.

“Artinya : Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah kembut mudah-mudahan ia ingat atau takut” [Thaha : 44]

Nabi
صلی الله عليه وسلم mengabarkan.

“Artinya : Sesungguhnya Allah Mahalembut, mencintai kelembutan. Dia memberikan kepada yang lembut apa yang tidak diberikan kepda yang kasar” [Diriwayatkan pula oleh Imam Muslim seperti itu dalam Al-Birr wash Shillah 2593]

Ketika beliau mengutus utusannya beliau berpesan.

“Artinya : Hendaklah kalian bersikap memudahkan dan jangan menyulitkan. Hendaklah kalian menyampaikan kabar gembira dan jangan membuat mereka lari, karena sesungguhnya kalian diutus untuk memudahkan dan bukan untuk menyulitkan” [1]

Maka hendaknya seorang dai bersikap lembut, manis muka dan lapang dada sehingga lebih mudah diterima oleh orang yang didakwahinya. Dan hendaklah ia mengajak ke jalan Allah
سبحانه و تعالى, bukan kepada dirinya, tidak perlu mengancam atau mendendam terhadap orang yang menyelisihi jalan ini, karena jika ia memang mengajak ke jalan Allah, berarti ia memang ikhlas, Allah akan memudahkan perkaranya dan memberi petunjuk melalui tangannya siapa saja yang dikehendakNya di antara para hambaNya.

Tapi jika ia berdakwah untuk dirinya, atau karena merasa bahwa yang didakwahinya itu adalah musuhnya sehingga ia mendendam terhadapnya, maka dakwahnya akan berkurang, bahkan mungkin berkahnya akan hilang. Nasehat saya untuk para dai, hendaknya menjiwai ini, yaitu bahwa mereka mendakwahi masyarakat karena sayang terhadap mereka dan untuk mengagungkan dan menolong agama Allah
سبحانه و تعالى.

[Ad-Da’wah, edisi 1291, Syaikh Ibnu Utsaimin]

[Disalin dari. Kitab Al-Fatawa Asy-Syar’iyyah Fi Al-Masa’il Al-Ashriyyah Min Fatawa Ulama Al-Balad Al-Haram, edisi Indonesia Fatwa-Fatwa Terkini-2, hal 238-240 Darul Haq]
_________
Foote Note
[1] Hadits Riwayat Muslim dalam Al-Ilm 69, Muslim juga meriwayatkan seperti itu dalam Al-Jihad 1734 dari hadits Anas, namun pada lafazhnya tidak terdapat ungkapan (Karena sesungguhnya kalian diutus untuk memudahkan), tapi potongan ini disebutkan dalam hadits tentang laki-laki yang kencing di masjid. Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dalam Al-Wudhu 220 dari hadits Abu Hurairah. 

Kategori: Dakwah
Sumber: http://www.almanhaj.or.id
Tanggal: Senin, 12 April 2004 09:56:19 WIB

Kamis, 22 Desember 2011

Antara Sarana Dan Tujuan


Oleh : Syaikh Ali bin Hasan bin Ali bin Abdul Hamid Al-Halabi Al-Atsary


Para pemuda Muslim yang penuh antusias, yaitu yang hendak mengembalikan kemuliaan umat dan menegakkan syariat Allah di bumi, banyak yang mencampur aduk berbagai pengertian syariat dalam amal dan dakwahnya.

Pencampuradukan pemikiran ini seringkali menjurus kepada kesalahan yang fatal tentang konsep hakikat dakwah kepada Allah atau dalam amal Islamy –menurut trend istilah mereka—sehingga Anda mendapatkan mereka tak pernah berhenti berusaha siang dan malam, aktif menghimpun para remaja, mengarahkan, membina, dan memompa kekuatan mereka, yang akhirnya membuat lupa dan keblinger bahwa semua itu hanyalah sarana, bukan merupakan tujuan.

Tujuan sebagaimana yang telah kami singgung di atas, adalah menegakkan ubudiyah karena Allah dan menancapkan sendi-sendi tauhid di dalam jiwa manusia.  Sedangkan sarana dari tujuan ini adalah dakwah kepada Allah, mengingatkan kepada kebaikan, melaksanakan amar ma'ruf nahi mungkar sesuai dengan ketentuan syariat Islam dan manhaj nabawy, tidak ada yang lain. Sebab dakwah kepada Allah merupakan dakwah yang sejalan dengan fitrah dan mudah untuk dilaksanakan, sudah termuat secara gamblang dalam Kitab dan Sunnah, tidak membutuhkan unsur-unsur eksternal dari manhaj nubuwah, kapan pun dan di mana pun, baik dalam konsep maupun hakikatnya.

Dakwah kepada Allah berdasarkan manhaj ini dan aktivitas da'i untuk memantapkan keharusan-keharusannya di dalam jiwa, merupakan tugas setiap orang yang berkompeten di dalam Islam, terlepas sama sekali dari kesempitan dan keterbatasan golongan. Sebab ini merupakan aktivitas yang dilaksanakan berdasarkan manhaj nubuwah dengan segala cakupan dan universalitasnya.  Ini merupakan kewajiban setiap orang yang berpegang kepada dasar syariat, tidak perlu menunggu terkuaknya pintu yang menghubungkan ke suatu golongan.  Mengaitkan diri kepada kewajiban dakwah ini pada dasarnya merupakan konsekuensi agama, yang diketahui sangat esensial.  Hal ini bisa dilakukan dengan mengeluarkan para pemeluk Islam dari ghurbah mereka yang kedua, sebagaimana yang pernah ditetapkan Nabi صلی الله عليه وسلم.

"Artinya : Islam itu berawal dalam keadaan asing, dan akan kembali asing seperti awalnya.  Maka berbahagialah bagi orang-orang yang asing."[1]

Tidak ada cara untuk menghilangkan ghurbah (keterasingan) ini kecuali dengan cara yang pernah diterapkan untuk mengenyahkan ghurbah yang pertama.  Maka dari itu Imam Malik berkata, "Akhir umat ini tidak akan menjadi baik kecuali dengan sesuatu yang membuat awalnya menjadi baik."  Dengan kata lain mengikuti manhaj nubuwah.

Gambaran mengikuti manhaj nubuwah ini tercermin pada diri orang-orang yang hidup pada abad pertama.  Maka siapapun yang mengikuti mereka, dia disebut jama'ah Muslimin, pembawa akidah Islam yang benar, orang yang selamat dari syahwat dan syubhat, terlepas dari orang yang memisahkan diri dari jama'ahnya, baik dalam hakikat maupun manhaj-nya, baik dengan sebutan atau gambaran tertentu, bisa diibaratkan perintang antara Islam dan hati, karena itu merupakan jalan yang tidak sempurna."

Kalau pun jalan dakwah itu jelas arahnya dan memungkinkan bisa dilalui seseorang, maka dapat kami katakan, "Seperti apapun keadaannya, sebagian orang tidak bisa beranggapan bahwa perintah mencari sarana-sarana dakwah mempunyai keleluasaan yang terbuka lebar bagi para da'i.  Mereka bisa menentukan pilihannya sendiri yang memang sesuai dengan keadaan dan masanya, selagi tujuannya benar."

Kami katakan pula, "Kaidah yang seringkali digunakan: 'Sarana mempunyai kekuatan hukum yang sama dengan hukun tujuan', tidak bisa diterima.  Sebab kadangkala sarana justru merupakan perusak yang dimakruhkan atau pun diharamkan, hanya sebatas pada sarana itu saja.  Padahal tidak ada sarana yang dijadikan untuk sesuatu yang haram maupun yang makruh." [2]

Begitulah permasalahan yang terjadi di berbagai golongan yang berkembang pada masa sekarang.  Keberadaan golongan-golongan ini justru memecah belah para da'i, penyakit di dalam hati manusia sulit disembuhkan dan menggolong-golongkan umat.  Padahal kita telah mengakui bahwa kelebihan jama'ah-jama'ah Islam atas kaum muslimin sendiri merupakan sesuatu yang tidak bisa dipungkiri kecuali oleh orang yang sombong.[3]

Realitas ini, dengan berbagai ragam sarana yang diupayakan, harus dihadapi para ulama.  Namun sarana yang direkaysa untuk sesuatu yang mubah, meskipun tidak dimaksudkan untuk tujuan-tujuan yang merusak, justru kerusakannya lebih kentara daripada kemaslahatannya.  Hal ini harus dicegah.

Apabila salah seorang di antara kita  --para da'i -- memandang keadaaan di sekitarnya, apakah yang dia dapatkan dari penggolong-golongan manusia?  Tentu mereka akan melihat beberapa pengelompokan sebagai berikut:
[1]. Kelompok orang-orang kafir atau ateis.
[2]. Kelompok orang-orang Muslim, tetapi mereka meninggalkan sebagian kewajiban dan tenggelam dalam sebagian kedurhakaan.
[3]. Kelompok orang-orang Muslim yang melaksanakan kewajiban, menjauhi hal-hal yang dilarang, tetapi mereka meremehkan kewajiban dakwah.
[4]. Sama dengan kelompok ketiga, ditambah lagi dengan kepedulian dakwah menurut petunjuk Islam dan kesucian Sunnah, tanpa berhimpun dengan suatu golongan.
[5]. Jama'ah-jama'ah Islam, kelompok-kelompok da'i dan golongan-golongan Islam.

Setelah ada kejelasan tentang pengelompokan-pemgelompokan ini, perhatikanlah apa yang biasa terjadi di antara mereka:

[1]. Bisakah Anda mendapatkan bara perselisihan?
[2]. Bisakah Anda mendapatkan penyakit-penyakit jiwa?
[3]. Bisakah Anda mendapatkan kompetisi yang dibenci?
[4]. Bisakah Anda mendapatkan teori-teori baru?
[5]. Bisakah Anda mendapatkan perpecahan yang nyata?
[6]. Bisakah Anda mendapatkan senyuman yang masam?
[7]. Bisakah Anda mendapatkan pengesahan sekaligus pendustaan?
[8]. Bisakah Anda mendapatkan gunjing-menggunjing?
[9]. Bisakah Anda mendapatkan kesewenang-wenangan dan penakwilan?
[10].  Bisakah Anda mendapatkan slogan-slogan yang batil?
[11]. Bisakah Anda mendapatkan pengakuan-pengakuan yang gagal di tengah jalan?

Kami dapat memastikan bahwa pertanyaan-pertanyaan ini sekaligus merupakan jawaban.  Maka Anda tak perlu mencarai-cari.
Jadi bisa kami katakan, bahwa keanekaragaman komando dan jama'ah Islam pada masa sekarang merupakan keadaan sakit yang tidak boleh dibiarkan berlanjut, apa pun keadaannya.

Setiap orang Muslim bertanggung jawab menyembuhkan realitas ini, agar orang-orang Muslim dapat kembali seperti keadaan mereka terdahulu, yaitu sebagai umat terbaik yang dilahirkan untuk semua manusia, dan agar semua agama hanya bagi Allah semata.[4]

Berdasarkan hal ini golongan –golongan tersebut secara zhahirnya merupakan sarana yang terorganisir bagi amal Islamy, untuk mewujudkan tujuan diciptakannya manusia, yaitu beribadah kepada Allah dan menyeru kepada-Nya.  Tetapi golongan-golongan ini berubah menjadi bentuk yang aneh di dalam tubuh umat Islam, yaitu menjadi tujuan dan dan menjadi pusat penimbunan amal Islamy, dengan mengeluarkan vonis yang dijatuhkan kepada jama'ah-jama'ah dan da'i-da'i lain.  Keberadaan golongan-golongan ini berubah menjadi tujuan untuk mengokohkan kekuasaan individual.  Buktinya adalah perselisihan yang seringkali terjadi untuk memperebutkan tampuk kepemimpinan golongan, penumpukan harta atau setidak-tidaknya mencari kedudukan yang berpengaruh.

Al-hasil, tidak boleh mempergunakan sarana yang tidak sesuai dengan ketentuan syariat dan tanpa didukung dalil atau menggunakan sarana yang tadinya sesuai dengan ketentuan syariat, namun akhirnya ia menjurus kepada kejahatan dan bertentangan dengan kitab serta sunnah.  Sebab segala sesuatu yang menjurus kepada fitnah perpecahan, bukan termasuk dari bagian agama, baik perkataaan maupun perbuatan. [5]

Ada satu urgensi yang bisa memperjelas permasalahan bahwa amal-amal orang Muslim yang sesuai dengan ketentuan syariat harus dilaksanakan sebagai sarana untuk tujuan yang paling tinggi, yaitu beribadah kepada Allah dan memurnikan ibadah itu.

Dakwah kepada Allah dari pintu ini juga merupakan sarana untuk menegakkan ubudiyah di dalam jiwa, dan menyebarkannya di antara manusia juga merupakan ibadah.  Yang menjadi landasan dalam berbagai ibadah adalah menahan diri dan pembatalan sehingga ada dalil yang memerintahkannya.

Jadi di sini (ibadah) tidak ada tempat untuk eksperimen individual maupun rekayasa pemikiran.  Ini merupakan medan ibadah, tidak ada tempat untuk qiyas dan pendapat.  Cara ini akan mendatangkan kemuliaan dalam tujuan dan kesucian dalam sarana.  Tidak ada keleluasaan bagi kita untuk menyelimuti dakwah kepada Allah dengan aturan di luar dakwah.

Dakwah yang terdiri dari sarana dan tujuan merupakan hakikat dakwah yang sudah tetap dan tidak berubah-ubah dengan karena perubahan tempat dan waktu serta keadaan.  Dasar dalam sarana memilih sarana penyebaran dakwah juga harus dibatasi pada manhaj nubuwah.  Sebab faktor-faktor yang diperintahkan Allah kepada hamba-hamba-Nya merupakan ibadah.

Sarana-sarana dakwah pada masa sekarang, sebelum dan sesudahnya harus sama dengan sarana-sarana dakwah yang dengannya Nabi صلی الله عليه وسلم diutus.  Sarana-sarana itu tidak berbeda penggunaannya untuk masa kita sekarang kecuali dalam hal-hal yang berkaitan dengan dasar-dasarnya yang harus ditahan.  Boleh ada perubahan, tetapi perubahan itu harus dibatasi dengan ketentuan syariat dan ditimbang dengan ukuran Kitab serta Sunnah.  Selagi ada sesuatu yang menyimpang dari keduanya, maka ia harus dihindari dan dijauhi.

Sedangkan sarana kontemporer yang disanjung-sanjung [6] maka tidak bisa diterapkan.  Sebab jalan dakwah itu merupakan satu jalan, yaitu yang dilalui Rasulullah صلی الله عليه وسلم dan para shahabatnya sejak awal.  Kita dan semua da'i juga harus meniti jalan itu, baik dalam timbangan iman maupun amal, dilakukan dalam suasana penuh kecintaan dan persaudaraan.  Maka terbentuklah satu kekuatan akidah, yang kemudian mengimbas kepada kekuatan persatuan.  Jama'ah mereka merupakan jama'ah ideal, yang kalimatnya pasti unggul dan dakwahnya pasti memperoleh kemenangan, meskipun semua penduduk bumi menjauhinya. [7]

Ini merupakan masalah yang sangat urgen, yang rinciannya membentuk sekian banyak da'i.  Maka yang harus dilakukan sekarang ialah mengamati bagaimana detailnya, tidak mencampur aduk makna-maknanya, tidak boleh menjadi corong dari kepentingan-kepentingan tertentu dan nafsu, bukan untuk direkayasa biar terlihat baik dan tidak boleh hanya sekedar percobaan.

[Disalin dari buku Ad-Da'wah ilallah Bainat-Tajammu'l-hizby Wat-Ta'awunisy-Syar'y, Syaikh Ali bin Hasan bin Ali bin Abdul Hamid Al-Halabi Al-Atsary. Edisi Indonesia: Menggugat Keberadaan Jama'ah-Jama'ah Islam. Penerjemah: Kathur Suhardi, Penerbit: Pustaka Al-Kautsar. Cet.Pertama, September 1994; hal.45-52]
_________
Foote Note
[1]. Diriwayatkan Muslim, hadits nomor, dari Abu Hurairah. (demikan tertulis di buku terjemahan. Tanpa dikuti nomornya;  Hadits dari Abu Hurairah ini dikeluarkan Muslim (2/175-176)- Ibnu Tumingan)
[2]. Madarijus-Salikin, Ibnul Qayyim,1/116
[3]. Masyru'iyyatul Amalil Jama'y, hal.27
[4]. Manhajul Anbiya' Fid Da'wah Ilallahi, 1/168
[5]. Al-Istiqomah, Syaikhul-Islam Ibnu Taimiyah,1/37
[6]. Seperti menjadaikan harta benda sebagai pijakan untuk menghimpun manusia dan mendekati mereka.  Cara ini tak ubahnya cara yang dilakukan para missionaris.  Jika harta berkurang, maka berkurang pula imannya.  Jika harta lenyap, maka lenyap pula keyakinannya, seperti yang seringkali kita lihat.
[7]. Thariqud-Da'wah, hal.13
Kategori: Dakwah
Sumber: http://www.almanhaj.or.id
Tanggal: Sabtu, 2 Desember 2006 06:51:34 WIB


Akan Muncul Da'i-Da'i Yang Menyeru Ke Neraka Jahannam

Oleh : Syaikh Salim bin Ied Al-Hilali


Dari Hudzaifah bin Al-Yaman رضي الله عنه beliau berkata : “Dahulu manusia bertanya kepada Rasulullah tentang hal-hal yang baik tapi aku bertanya kepada beliau tentang hal-hal yang buruk agar jangan sampai menimpaku”
Aku bertanya : “Wahai Rasulullah, dahulu kami berada dalam keadaan jahiliyah dan kejelekan lalu Allah mendatangkan kebaikan (Islam,-pent) ini, apakah setelah kebaikan ini akan datang kejelekan ?”
Beliau berkata : “Ya”
Aku bertanya : “Dan apakah setelah kejelekan ini akan datang kebaikan?”
Beliau menjawab : “Ya, tetapi didalamnya ada asap”.
Aku bertanya : “Apa asapnya itu ?”
Beliau menjawab : “Suatu kaum yang membuat ajaran bukan dari ajaranku, dan menunjukkan (manusia) kepada selain petunjukku. Engkau akan mengenal mereka dan engkau akan memungkirinya”
Aku bertanya : “Apakah setelah kebaikan ini akan datang kejelekan lagi ?”
Beliau menjawab :”Ya, (akan muncul) para dai-dai yang menyeru ke neraka jahannam. Barangsiapa yang menerima seruan mereka, maka merekapun akan menjerumuskan ke dalam neraka”
Aku bertanya : “Ya Rasulullah, sebutkan cirri-ciri mereka kepada kami ?”
Beliau menjawab : “Mereka dari kulit-kulit/golongan kita, dan berbicara dengan bahasa kita”
Aku bertanya : “Apa yang anda perintahkan kepadaku jika aku temui keadaan seperti ini”
Beliau menjawab : “Pegang erat-erat jama’ah kaum muslimin dan imam mereka”
Aku bertanya : “Bagaimana jika tidak imam dan jama’ah kaum muslimin?”
Beliau menjawab :”Tinggalkan semua kelompok-kelompok sempalan itu, walaupun kau menggigit akar pohon hingga ajal mendatangimu”

TAKHRIJ  HADITS
Hadits ini memiliki banyak jalan, diantaranya :

[1]. Dari jalan Walid bin Muslim (dia berkata) : Menceritakan kepada kami Ibnu Jabir (dia berkata) : Menceritakan kepada kami Bisr bin Ubeidillah Al-Hadromy hanya dia pernah mendengar Abu Idris Al-Khaoulani dari Hudzaifah bin Yaman رضي الله عنه …….[HR Bukhari 6/615-616 dan 13/35 beserta Fathul Baari. Muslim 12/235-236 beserta Syarh Nawawi. Baghowi dalam Syarhus Sunnah 14/14. Dan Ibnu Majah 2979]

[2]. Dari jalan Waki’ dari Sufyan dari ‘Atho’ bin Saib dari Abi Al-Bukhari dia berkata : Hudzaifah رضي الله عنه berkata ….. [HR Ahmad dalam musnad 5/399]

[3]. Dari jalan Abi Mughiroh (dia berkata) menceritakan kepada kami Assafar bin Nusair Al-Azdi dan selainnya dari Hudzaifah bin Al-Yaman, beliau berkata : “Wahai Rasulullah sesungguhnya kami dahulu dalam keburukan lalu Allah menghilangkannya dan mendatangkan kebaikan melalui anda. Apakah setelah kebaikan ini akan datang kejelekan?”. Beliau berkata : “Ya”. Hudzaifah bertanya lagi : “Apa kejelekan tersebut?” Beliau menjawab : “Akan muncul banyak fitnah seperti malam yang gelap gulita, sebagaimana mengikuti yang lainnya dan akan datang kepada kalian hal-hal yang samar-samar seperti wajah-wajah sapi yang kalian tak mengetahuinya” [HR Ahmad 5/391]

SYARH HADITS
[A]. Mengenal Jalan Orang-Orang Yang Tersesat Merupakan Kewajiban Dalam Syariat.
Ketahuilah -semoga Allah memberkahi anda- sesungguhnya metode Ar-Rabbani (Islam) yang tertuang dalam Al-Qur’an dan Sunnah Nabi صلی الله عليه وسلم ketika menampilkan generasi pertama yaitu shabat dan para tabi’in (sesungguhnya bertujuan) untuk mejelaskan jalan kebenaran dan agar diikuti.

Allah berfirman.

“Artinya : Barangsiapa yang menyelisihi Rasul setelah jelas baginya petunjuk dan dia mengikuti jalan selain orang-orang yang beriman maka kami palingkan dia kemana dia berpaling dan kami akan memasukkannya kedalam neraka jahannam. Dan itulah seburuk-buruk tempat kembali” [An-Nisa : 116]

Akan tetapi (metode Islam ini) tidak cukup hanya mejelaskan jalan kebenaran saja bahkan menyingkap kebatilan dan mengungkap kepalsuannya agar jelas dan terang jalan orang-orang yang tersesat (lalu dijauhi dan ditinggalkan,-pent).

Allah ta’ala berfirman.

“Artinya : Dan demikianlah kami terangkan ayat-ayat Al-Qur’an, supaya jelas jalan orang-orang yang benar dan supaya jelas (pula) jalan orang-orang yang tersesat” [Al-An’am : 55]

Seorang penyair berkata.

“Aku mengenal keburukan bukan untuk keburukan akan tetapi untuk menjauhinya”

“Dan barangsiapa yang tidak mengenal kebaikan dari keburukan dia akan terjerumus kedalam keburukan itu”.

[B]. Islam Terancam Dari Dalam
Sesungguhnya musuh-musuh Allah terus mengintai Islam hingga ketika mereka telah melihat penyakit whan (cinta dunia dan takut mati) telah menjalar dalam tubuh kaum muslimin dan penyakit-penyakit yang lain sudah menyebar  mereka langsung menyerang dan menyumbat nafas kaum muslimin.

Sesungguhnya racun-racun berbisa yang membinasakan dan menghancurkan kekuatan kaum muslimin serta melemahkan gerak mereka bukanlah pedang-pedang orang-orang kafir yang berkumpul untuk membuat makar terhadap Islam. Akan tetapi kuman-kuman yang busuk yang menyelinap didalam tubuh kaum muslimin yang lambat tapi pasti (itulah yang menyebabkan kebinasaan). Itulah asap yang dikatakan oleh Nabi صلی الله عليه وسلم dalam hadits Hudzaifah diatas : “suatu kaum yang membuat ajaran bukan dari ajaranku dan memberikan petunjuk bukan dari petunjukku …..” Didalam ucapan beliau ini ada hal-hal penting diantaranya.

[1]. Sesungguhnya asap itu merupakan penyimpangan yang selalu membuat kabur ajaran Islam (Sunnah Nabi صلی الله عليه وسلم) yang terang benderang malamnya bagaikan siangnya.

[2]. Yang nampak pada saat  terjadinya hal ini adalah kebaikan akan tetapi dalamnya terdapat hal-hal yang membinasakan. Bukanlah dalam riwayat Muslim Nabi صلی الله عليه وسلم bersabda : “Akan muncul manusia-manusia yang berhati setan”.

[3]. Asap ini terus tumbuh dan menguasai hingga kejelekan itu merajalela serta merupakan awal munculnya dai-dai penyesat dan kelompok-kelompok sempalan.

[4]. Sesungguhnya yang meniup asap tersebut adalah para dai-dai penyesat. Dan ini menunjukkan bahwa rencana busuk untuk menghancurkan Islam dan kaum muslimin telah mengakar kuat dalam sejarah Islam.

[5]. Sesungguhnya gembong-gembong kesesatan selain giat dalam menyesatkan. Akan tetapi (sebagian) pemegang kebenaran lalai dan tertidur hingga asap tersebut menguasai dan merajalela serta menutupi kebenaran. Dari sini kita ketahui bahwa asap yang menyelimuti kebenaran dan mengkotori kejernihannya adalah bid’ah-bid’ah yang ditebarkan oleh Mu’tazilah, Sufiyah, Jahmiyah, Khowarij, Asy’ariyah, Murji’ah dan Syi’ah Rofidhoh sejak berabad-abd lamanya.

Oleh karena inilah umat Islam mejadi terbelakang dan menjadi santapan bagi setiap musuh serta menyebarnya kebatilan. Dan dengan sebab inilah setiap munafik berbicara dengan mengatas namakan Islam. Dari sini kita mengetahui bahwa bahaya bid’ah lebih besar daripada musuh-musuh yang lainnya (orang-orang kafir), karena bid’ah merusak hati dan badan tapi musuh-musuh tersebut hanya merusak badan. Para salaf telah bersepakat akan kewajiban memerangi ahli bid’ah dan menghajr (memboikot) mereka. Imam Dzahabi mengatakan : “Para salaf sering mentahdzir ahli bid’ah, mereka mengatakan : Sesungguhnya hati-hati ini lemah sedangkan syubhat (dari ahli bid’ah itu) cepat mencengkram”.

[C]. Hati-Hati Antek-Antek Yahudi !!!
Sesungguhnya para gembong-gembong kekafiran telah memproduksi antek-anteknya dalam negeri kaum muslimin dua cara.

[1]. Pengiriman para pelajar ke negeri kafir (seperti di Cihicago Univerity,-pent) yang disanalah para pelajar kaum muslimin di cuci otak-otak mereka lalu jika mereka pulang mereka sebarkan racun-racun itu kepada kaum muslimin.

[2. Dengan menyelinapnya para orientalis dibawah simbol-simbol penelitian ilmiah. Sesunggunya para orientalis-orientalis itu merupakan antek-antek/tangan-tangan Yahudi dan Nashrani.

Di dalam hadits Hudzaifah ini Rasulullah صلی الله عليه وسلم menyebutkan ciri mereka, beliau bersabda :

“Akan muncul dai-dai yang menyeru ke neraka jahannam, barangsiapa yang menerima seruan mereka maka mereka akan menjerumuskannya ke dalam jahannam”. Hudzaifah bertanya : “Wahai Rasululah sebutkan cirri mereka ?” Rasulullah menjawab : “Mereka dari golongan kita dan berbicara dengan lisan-lisan kita”.

[a]. Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah berkata dalam Fathul Baari 13/36 : “Yaitu dari kaum kita dan  yang berbicara dengan bahasa kita serta dari agama kita. Didalamnya ada isyarat bahwa mereka itu dari Arab”.

[b]. Ad-Dawudi berkata : “Mereka itu dari keturunan Adam”.

[c]. Al-Qoobisy berkata : Maknanya, secara dhohir mereka itu dari agama kita tapi secara batin mereka menyelisihi (agama kita)”.

Mereka menampakkan kesungguhan dalam memberi solusi, dan maslahat bagi umat. Tapi mereka menipu umat dengan gaya bahasa mereka, dan hati-hati mereka menginginkan untuk menjalankan misi-misi tuan-tuan mereka dari kalangan Kristen dan Yahudi. Allah berfirman.

“Artinya : Tidak akan ridho orang-orang Yahudi dan Narani hingga kalian mengikuti agama mereka” [Al-Baqarah : 120]

Diantara mereka adalah Thoha Husein (dari Mesir, pent) yang dijuluki oleh tuan-tuannya sebagai pujangga Arab. Orang ini mengatakan bahwa syair orang-orang jahiliyah itu lebih baik kesasteraannya daripada Al-Qur’an. Inilah pemikiran Marjilius seorang orientalis Yahudi yang diadopsi oleh Thoha Husein dan dipropagandakannya. Contoh-contoh seperti ini banyak sekali, mereka turun temurun dari waktu ke waktu di setiap tempat.


[D]. Siapa Jama’ah Kaum Muslimin ?
Setelah melihat kenyataan yang pahit dan getir ini, mulailah sebagian kaum muslimin bangkit, setiap kelompok dari kaum muslimin melihat realita ini dari kaca mata tersendiri, kelompok yang lain juga demikian. Oleh karena itulah bisa dikatakan bahwa kelompok-kelompok yang ada sekarang ini yang katanya berjuang atau berdakwah, mereka itu saling berselisih dalam metode dan cara berdakwah. Dan perselisihan yang paling parah yang menghalangi persatuan mereka adalah dua hal :

[1]. Peselisihan mereka dalam pengambilan sumber ilmu dan pemahaman terhadap Al-Qur’an dan Sunnah.
[2]. Ketidakmengertian mereka tentang diri mereka sendiri, sehingga pada saat ini kita sering menyaksikan bahwa hizbiyyah dan fanatik golongan ini masih menyumbat akal pikiran para dai-dai yang turun di medan dakwah. Mereka membanggakan diri mereka sendiri dan meremehkan yang lainnya. Sebagiannya menganggap bahwa kelompoknya itulah yang dinamakan jama’ah kaum muslimin dan pendirinya adalah imam kaum muslimin yang wajib di bai’at atau disumpah setia. Dan sebagiannya lagi mengkafirkan kaum muslimin. Sebenarnya mereka hanya jama’ah atau kelompok-kleompok kaum muslimin, karena kaum muslimin sekarang tidak memiliki jama’ah ataupun imam/pemimpin.

Ketahuilah wahai saudaraku, bahwa jama’ah kaum muslimin adalah (Negara Islam) yang bersatu atau berkumpul didalamnya seluruh kaum muslimin. Mereka hanya punya satu imam/pemimpin yang menerapkan hukum-hukum Allah dan wajib untuk di taati serta diba’iat.

[E] Tinggalkan Kelompok-Kelompok Sempalan Itu
Hadits Hudzaifah diatas memerintahkan kepada kita untuk meninggalkan semua kelompok-kelompok sesat ketika terjadi fitnah dan kejelekan serta disaat tidak ada jama’ah kaum musilimin dan imam mereka.

Kelompok-kelompok sempalan ini yang menyeru manusia kepada kesesatan, bersatu diatas kemungkaran dan diatas hawa nafsu atau berkumpul diatas pemikiran-pemikiran kufur seperti sosialisme, komunisme, kapitalisme, demokrasi atau bersatu berdasarkan fanatik golongan dan lain sebagainya.

Inilah kelompok-kelompok sesat yang diperintahkan oleh Rasulullah صلی الله عليه وسلم dalam hadits Hudziafah untuk ditinggalkan dan dijauhi karena  menjerumuskan manusia ke dalam neraka jahanam dengan sebab ajaran mereka yang  bukan dari Islam.

Adapun kelompok yang menyeru kepada Islam (yang benar), memerintahkan kepada yang baik dan melarang dari yang mungkar maka inilah yang diperintahkan oleh Allah untuk diikuti dan ditolong. Allah ta’ala berfirman.

“Artinya : Hendaklah ada diantara kalian sekelompok orang yang menyeru kepada kebaikan dan menyeru kepada yang baik dan melarang dari yang mungkar. Dan merekalah orang-orang yang beruntung” [Ali-Imran : 104]

[E]. Jalan Keluar Dari Problematika Umat
Nabi صلی الله عليه وسلم memerintahkan Hudzaifah untuk meninggalkan semua kelompok sempalan yang menyeru ke neraka jahannam meskipun sampai menggigit akar pohon hingga ajal menjemput. Adapun penjelasannya, maka sebagai berikut :

[1]. Ini adalah perintah untuk berpegang teguh pada Al-Qur’an dan Sunnah serta pemahaman salafush shalih. Sebagaimana hal ini dijelaskan oleh Rasulullah صلی الله عليه وسلم dalam hadits Al-Irbadh bin Sariyah رضي الله عنه.

“Artinya : Dan barangsiapa yang hidup diantara kalian maka dia akan melihat perselisihan yang banyak sekali, maka berhati-hatilah kalian dari perkara-perkara yang baru dalam agama karena itu kesesatan. Dan barangsiapa diantara kalian yang mendapatkan hal ini maka wajib bagi kalian berpegang teguh dengan sunnahku dan sunnah para khulafa ‘ar-rasyidin, gigitlah erat-erat dengan gigi geraham kalian”. [HR Abu Dawud (4607). Tirmidzi (2676) dan Ibnu Majah (440) dan selain mereka]

Didalam hadits Hudzaifah, Nabi صلی الله عليه وسلم memerintahkan untuk menggigit akar pohon ketika terjadi perpecahan sambil menjauhi semua kelompok sesat. Dan didalam hadits Al-Irbadh beliau memerintahkan untuk berpegang teguh dengan Sunnah sesuai dengan pemahaman salafus shalih رضي الله عنهم, ketika munculnya kelompok-kelomok sesat dan ketika tidak adanya jama’ah kaum muslimin serta imam mereka.

[2]. Sesungguhnya perintah untuk menggigit akar pohon dalam hadits Hudzaifah maknanya adalah istiqomah atau tetap dalam sabar dalam memegang kebenaran dan dalam meninggalkan semua kelompok sesat yang menyelisihi kebenaran. Atau maknanya bahwa pohon Islam akan diguncang dengan angin kencang hingga merontokkan semua ranting dan cabangnya, tidak ada yang tersisa melainkan akarnya yang masih tegar. Karena itulah wajib bagi setiap muslim untuk memegang erat akar tersebut dan mengorbankan semua yang berharga dalam dirinya karena akar tersebut akan tumbuh dan tegar kembali.

[3]. Ketika itu juga wajib bagi setiap muslim untuk menolong dan membantu kelompok (yang berpegang teguh dengan sunnah tersebut, -pent) dari setiap fitnah yang mengancam. Karena kelompok ini yang selalu tampak diatas kebenaran hingga akhirnya mereka membunuh Dajjal.

[Ringkasan darp kitab Al-Qaulul Mubin Fii Jama’atil Muslimin]

[Disalin dari majalah Adz-Dzkhiirah Al-Islamiyah Edisi 13 Th. III Shafar 1426H/ April 2005M, hal. 22-26. Penerbit Ma’had Ali Al-Irsyad. Jl. Sultan Iskandar Muda No. 45 Surabaya]
Kategori: Dakwah
Sumber: http://www.almanhaj.or.id
Tanggal: Kamis, 22 Februari 2007 05:55:20 WIB