Masji Al Haram

Masji Al Haram
Tampilkan postingan dengan label Fokus Utama. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Fokus Utama. Tampilkan semua postingan

Jumat, 16 Desember 2011

Ulama-Ulama Pembela Dakwah Salafiyah Dahulu Hingga Sekarang -Muhammad bin Abdul Wahhab-

-Bagian Terakhir dari Tiga Tulisan 3/3-

Oleh : Syaikh Ali bin Hasan bin Ali bin Abdul Hamid Al-Halabi

MUHAMMAD BIN ABDUL WAHHAB RAHIMAHULLAH

Beliau hidup tiga abad yang lampau. Pada saat dunia dipenuhi syirik, bid’ah dan kesesatan. Orang-orang bertawajjuh (menghadapkan wajah mereka) kepada selain Allah, kepada wali-wali Allah, berdo’a dan beristighatsah kepada selain Allah, meminta pertolongan kepada selain Allah. Mereka menggantungkan hati kepada pohon, batu, kain-kain, pakaian-pakaian, dan peninggalan-peninggalan (yang dikeramatkan). Mereka mencari berkah dari semua hal di atas.

Maka imam ini melaksanakan apa yang Allah ilhamkan kepadanya, dan apa yang Allah telah ilhamkan kepada imam lainnya, Amir yang bersamanya. Sehingga bersatulah ilmu dan jihad, pena dan tombak. Keduanya saling menguatkan dan saling menolong untuk membela tauhid dan aqidah yang lurus. Beliau berdakwah menuju Allah Ta’ala dan menuju tauhid yang murni. Membuang bid’ah dan khurafat, membantah syirik dan muhdatsat (perkara baru dalam agama), dengan kekuatan yang Allah berikan kepada beliau. Terjadilah berbagai bantahan, perdebatan dan disukusi diantara beliau dengan musuh-musuh dakwah al-haq di zaman beliau. Beliau mendapatkan kemenangan yang nyata, dan kalimat beliau muncul. Allah meninggikan namanya, karena beliau telah meninggikan Sunnah dan Tauhid.

Beliau juga menyusun kitab-kitab yang mengagumkan, bagus, dan setiap rumah wajib memiliki kitab-kitab tersebut. Seorang tholabul ilmi –juga orang awam- jangan sampai tidak memilikinya, seperti kitab Tauhid Alladzi Haqqullahi Alal Abid (Tauhid Merupakan Haq Allah Atas Para HambaNya). Kitab ini, kitab yang diberkahi, mudah bahasanya, indah penjelasannya, kuat ungkapannya. Yang ada hanyalah firman Allah dan sabda Rasulullah صلی الله عليه وسلم, kemudian beliau sebutkkan faidah-faidah yang dapat dipetik dari ayat-ayat atau dari hadits-hadits.

Sebagian ulama menyebutkan kisah yang mengandung pelajaran berkenan dengan kitab ini dan penulisnya. Ada seseorang diantara penduduk Afrika. Disana tersebar pemikiran Sufi yang menyelisihi kitab Allah dan sunnah Nabi. Dia (seorang Afrika) berkata : “Ada seorang syaikh, di antara syaikh Thariqah Sufi. Setiap selesai melakukan shalat, dia mengangkat tangannya dan mendo’akan kecelakaan untuk Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab. Dia memohon kepada Allah, agar Allah menimpakan kerburukan kepadanya …dan seterusnya”. Do’a yang menjadikan bergidik hati orang-orang yang bertauhid. Seorang Afrika tadi berkata : “Suatu kali aku mendatanginya, aku membawa kitab tauhid, tetapi aku melepaskan sampulnya dan aku buang judulnya. Aku menemuinya, duduk bersamanya, dan mulai mengobrol. Dia (syaikh Sufi) berkata kepadaku : ‘Kitab apa ini ?’. Aku jawab : ‘Kitab yang berisi ayat dan hadits, ditulis oleh seorang ulama’. Dia berkata : ‘Bolehkah aku membacanya?’. Maka seolah-olah aku berharap agar dia tambah meminta dan penasaran. Aku lalu memberikannya, dan berkata : “Tetapi aku ingin engkau meringkaskan kitab ini untukku, karena aku tidaklah seperti anda, seorang alim yang agung, sehingga aku mendapatkan manfaat”. Maka besoknya dia kembali, lalu syaikh itu mengatakan : “Kitab ini sangat bagus, kitab ini menjelaskan berdasarkan ayat dan hadits, bahwa kita berada di atas kesesatan, kebodohan, dan penyimpangan. Didalamnya hanya ada firman Allah dan sabda Rasul. Siapakah yang menyusunnya ?” Dia menjawab : “Inilah penyusunnya, orang yang selalu engkau do’akan kecelakaan pada waktu malam dan siang”. Maka syaikh itu bertaubat kepada Allah saat itu juga. Dahulu dia selalu mendo’akan kecelakaan untuknya, kemudian dia lalu mendo’akan kebaikan untuknya. Inilah Imam Muhammad bin Abdul Wahhab.

Dakwahnya yang diberkahi terus berlanjut, juga riwayat beliau yang semerbak wangi. Sampai sekarang, keturunan beliau masih meninggikan bendera Sunnah, membela manhaj yang haq, semampu mereka. Kita mohon kepada Allah Ta’ala agar merahmati di antara mereka yang sudah wafat, dan menjaga dengan kebenaran di antara mereka yang masih hidup.

Saudara-saudaraku, membahas secara sempurna tentang imam ini, karyanya, risalahnya, jawabannya, dan hidupnya, sangat luas. Akan tetapi -yang kami sampaikan ini– adalah inti yang menyinari untuk mendorong kita dengan cepat guna memahami riwayat imam-imam kita dan berita-berita pembesar kita.

Pada zaman ini banyak ulama dan pembela dakwah. Alhamdulillah, karena dakwah ini membawa banyak kebaikan, keutamaan yang berlimpah. Cahayanya menyebar ke seluruh dunia. Di Afrika, Asia, Amerika, Eropa dan disegala tempat kita lihat muwahhidin (orang-orang yang bertauhid). Kita lihat Ahlus Sunnah yang baik, para da’i Salafi. Mereka tidaklah disatukan oleh hizb (kelompok), diorganisasi oleh thariqah, atau harakah. Akan tetapi mereka disatukan oleh tauhidullah. Maka tauhidullah, dan kalimat tauhid merupakan asas tauhidul kalimat (persatuan). Setiap kita menjauhi kalimat tauhid, kita menjauhi tauhidul kalimat.

Pada zaman ini, mulai abad ini, terdapat ulama-ulama pembela dakwah yang diberkahi. Di antara mereka, yang pertama adalah Imam Allamah Abdurrahman bin Yahya Al-Mu’alimi Al-Yamani, kemudian Allamah Mahmud Syakir Al-Mishri, juga para saudara dan kawan mereka, Abdurrahman Al-Wakil, Abdurrahman Hamzah, Muhammad Khalil Harras.

Sampai perkara ini pada Syaikh Muhammad bin Ibrahim, beliau adalah salah satu keturunan Imam Muhammad bin Abdul Wahhab, sampai kemudian muridnya Imam Allamah Al-Bashir Abu Abdullah Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz.

Bersamanya juga ada saudaranya, Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani, imam, alamah, ustadz kami yang mulia, muhadits umat yang agung. Juga kawannya, saudaranya, temannya yang serupa dengannnya, imam, allamah, Abu Abdullah Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin, ahli fikih yang teliti, memiliki pandangan yang dalam, yang diiringi taufik dan tahqiq. Aku katakan, bahwa beliau memiliki keistimewaan daripada seluruh ulama pada zaman ini semuanya. Dengan sesuatu yang Allah anugrahkan kepadanya, yang tidak diberikan kepada orang lain. Bahwa ceramahnya merupakan karya. Hampir semua pembicaraannya, syarahnya, pelajarannya, seolah-olah beliau memegangi penanya, buku tulisnya, dan menulis dengan susunan yang bagus, penggabungan, pembagian, dengan gaya yang istimewa, luar biasa. Alhamdulillah, mereka semua diatas satu jalan, yang cemerlang dan bersih, dalam membela sunnah Nabi. Meninggikan bendera aqidah Salafiyyah. Mereka berjihad dalam hal itu dengan sebenar-benarnya, membelanya di kalangan hamba Allah dan di berbagai negeri. Kemudian mereka wafat pada satu rangkaian. Mereka telah menyelesaikan kewajiban. Kita bersikap kurang jika kita berhenti dibelakang mereka, tidak melanjutkan dakwah mereka, tidak mencari kemenengan dengan manhaj mereka, dan tidak mengangkat bendera mereka. Kalau demikian jadilah musibah yang besar. Kita mohon perlindungan kepada Allah.

Dengan semua ini kita mendengar orang bodoh dari sana-sini mencela ulama kita. Engkau dengar salah seorang dari mereka mengatakan : “Ibnu Baz termasuk ulama penguasa”. Wahai miskin, apa yang kau inginkan terhadap beliau, seorang laki-laki yang ‘alim, zuhud, banyak beribadah! Apa yang beliau kehendaki dari dunia ini, -sedangkan beliau menganggap remeh dunia ini, merasa cukup dengan sedikit dunia- sampai beliau menjilat penguasa, dan menjadi ulama penguasa yang mengikuti hawa nafsu.

Engkau lihat salah seorang dari mereka mengatakan “Ibnu Utsaimin tidak memahami waqi (kenyataan/situasi dan kondisi)”. Wahai miskin, Ibnu Utsaimin adalah seorang alim, tegar bagaikan gunung, beliau mengetahui kaidah-kaidah ilmu. Seperti perkataan ulama : “Hukum (keputusan) terhadap sesuatu merupakan cabang dari persepsi (ilmu) terhadap sesuatu itu”. Apakah mungkin, beliau akan atau telah memutuskan hukuman terhadap sesuatu masalah, tanpa memahami waqi, tanpa melihat sisi-sisinya, dan tanpa meliputi detail-detailnya. Memang istilah “memahami waqi” yang dikehendaki oleh orang-orang bodoh itu adalah kondisi politik zaman ini, yang sumbernya hanyalah dari orang-orang kafir dan musuh-musuh Islam. Apakah karena imam ini (Syaikh Ibnu Utsaimin) dan saudara-saudaranya (para ulama lainnya) berada di atas kebenaran, yang berupa pengambilan sumber yang baik, pemikiran yang baik, pengambilan pelajaran yang baik dari berita-berita yang ada, lalu hal-hal itu berbalik menjadi tuduhan terhadap mereka (sebagaimana di atas ?). Kita mohon perlindungan kepada Allah Ta’ala.

Kemudian, ada orang ketiga dari golongan yang mencela ulama kita itu. Mungkin dia seorang yang bodoh, tolol, berakhlak buruk. Dia menuduh Syaikh Al-Albani, bahwa beliau Murji’ah. Demi Allah, demi Allah, demi Allah. Seandainya si bodoh ini hidup sepanjang waktunya, niscaya dia tidak mengetahui makna irja’ secara benar, makna yang tertolak, ataupun yang tidak tetolak. Demi Allah sesungguhnya zaman ini, Syaikh Al-Albani termasuk ulama yang pertama-tama membantah pemikiran, pendapat, kesesatan, dan penyimpangan Murji’ah. Bahkan beliau menyelisihi sebagian ulama yang menganggap perselisihan antara Ahlus Sunnah dengan para ahli fiqih Murji’ah sebagai perselisihan semu, (tidak sebenarnya). Syaikh Al-Albani menyatakan, perselisihan itu benar-benar ada, bukan hanya semu.

Bantahan-bantahan Syaikh Al-Albani terhadap Murji’ah tersebut telah berlalu 30 tahun lalu, bahkan lebih. Sedangkan orang yang membantah beliau, jika engkau Tanya umurnya, aku hampir pasti bahwa umurnya tidak lebih 40 tahun. Maka ketika Syaikh Al-Albani membantah Murji’ah, engkau –wahai miskin- (yang membantah beliau) sedang bermain-main bersama anak-anak di jalan-jalan. Saat itu engkau sedang membaca alif, ba’, di Taman Kanak-kanak !. Kemudian ketika wajahmu tumbuh sebagian rambut, tiba-tiba engkau mencela dengan kebodohanmu, bersikap kurang dengan akalmu, engkau katakan bahwa Syaikh Al-Albani Murji’. Ini adalah musibah yang hebat, dan dosa besar yang gelap. Kita memohon perlindungan kepada Allah Ta’ala.

Tetapi ahlul haq selalu ditolong (oleh Allah). Bendera mereka berkibar, kalimat mereka tinggi, baik kita suka atau tidak. Jika kita tidak membela mereka, niscaya Allah akan membela dengan saudara-saudara kita, murid-murid kita, anak-anak kita, atau cucu-cucu kita.

Kebaikan itu terus berlanjut. Walaupun ketiga ulama besar tersebut telah wafat, (Syaikh Abdul Aziz bin Baz, Syaikh Al-Albani dan Syaikh Utsaimin,-pent) bukan berarti dakwah mereka juga berhenti. Karena sanad masih terus shahih (benar), seolah-olah mata rantai emas, seolah-olah mutiara yang dirangkaikan dengan kebenaran dan cahaya. Hendaklah kita lihat pada ahli ilmu dan sunnah yang mengiringi mereka. Hendaklah kita lihat Syaikh Abdul Muhsin Al-Abbad, Syaikh Shalih Al-Fauzan, Syaikh Abdul Aziz Alu Syaikh, Syaikh Hushain bin Abdul Aziz Alu Syaikh, Syaikh Shalih bin Abdul Aziz Alu Syaikh. Mereka semua berada di atas jalan dan kaidah yang sama. Kalimat mereka satu, manhaj mereka satu, dan aqidah mereka satu. Walaupun nampak perkara-perkara yang disangka oleh sebagain orang sebagai perselisihan di antara mereka. Padahal itu bukanlah perselisihan, dan kalimat mereka akan menjadi satu. Baik dalam hakekat dan kenyataan, di dalam pandangan dan bentuk. Aku melihat hal itu dengan penuh keyakinan dan tawakkal kepada Allah, wahai saudara-saudaraku, sebagaimana anda sekalian melihat.

Maka hinalah orang-orang Hizbiyyun, orang-orang zhalim, dan orang-orang bodoh. Teruslah dakwah ini dengan karunianya, kebersihannya, keindahannya, dan kesempurnaannya. Semoga kita pantas menjadi para pengikutnya, dan para pengembannya. Setelah itu kita berharap menjadi para pembelanya. Aku memohon taufik dan ketetapan, petunjuk dan ketetapan, kepada Allah untuk diriku dan anda semua. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas hal itu. Semoga shalawat dan salam tercurahkan kepada Nabi kita صلی الله عليه وسلم, keluarganya, sahabatnya semua. Akhir ucapan kami Alhamdulillahi Rabbil Alamin.

[Disalin dari Majalah As-Sunnah Edisi 03/Tahun VI/1423H/2002M, Diambil dari materi ceramah Syaikh Ali bin Hasan bin Ali bin Abdul Hamid Al-Halabi Tanggal 3-6 Muharram 1423H di Ma’had Ali Al-Irsayd Surabaya dengan judul A’lam Dakwah Salafiyah Diterjemahkan oleh Azhar Rabbani dan Muslim Atsari]
Kategori: Fokus Utama
Sumber: http://www.almanhaj.or.id
Tanggal: Rabu, 15 Februari 2006 14:28:28 WIB

Ulama-Ulama Pembela Dakwah Salafiyah Dahulu Hingga Sekarang -Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah-

-Bagian Kedua dari Tiga Tulisan 2/3-

Oleh : Syaikh Ali bin Hasan bin Ali bin Abdul Hamid Al-Halabi

SYAIKHUL ISLAM IBNU TAIMIYAH RAHIMAHULLAH

Adapun pada abad-abad pertengahan, (sebagaimana yang sudah saya katakan), dalam waktu yang singkat ini saya tidak bisa menyebutkan setiap ulama untuk setiap abad. Saya hanya akan menyebutkan orang-orang yang memiliki tanda-tanda yang menonjol.

Kami menyebutkan pada abad-abad pertengahan, pada abad ke delapan, Syaikhul Islam, seorang ulama besar, seorang imam, Abul Abbas, Ahmad bin Abdul Halim bin Abdus Salam, Ibnu Taimiyah, An-Numairi, Ad-Dimasyki, Al-Harani –semoga Allah memberi rahmat kepadanya-. Beliau telah menulis kitab-kitab, menyusun tulisan-tulisan, menempatkan kaidah-kaidah, dan menjawab masalah-masalah.

Demi Allah, demi Allah dan demi Allah hampir saya bersumpah secara khusus, bahwasanya tidak ada syubhat yang kamu hadapi di masa-masa ini. Setelah delapan abad dari kematian Imam ini, wahai saudaraku yang mendapatkan taufik, di dalam masalah aqidah dan agama yang termasuk masalah-masalah ahli bid’ah lalu kamu mencarinya di dalam kitab-kitabnya, kamu teliti di dalam tulisan-tulisannya dan risalah-risalahnya, atau fatwa-fatwa dan jawaban-jawabannya, maka kamu akan mendapatkan jawabannya. Jika kamu tidak mendapatkannya, maka hal itu disebabkan ketidak mampuan dalam mencarinya, bukan karena Ibnu Taimiyah tidak menyebutkan jawaban. Masalah ini saya harapkan agar dipahami secara baik. Sehingga nampak kemampuan Imam ini, kekuatan ilmunya, keluasan akalnya, kegeniusan otaknya –semoga Allah memberi rahmat kepadanya-.

Apabila kamu ingin tahu kedudukan Ibnu Taimiyyah, maka ketahuilah bahwa Ibnul Qayyim adalah muridnya. Apabila kamu ingin tahu ukuran kegeniusan yang diberikan oleh Allah kepada Ibnu Taimiyah, maka ketahuilah bahwa Imam Ibnu Katsir termasuk muridnya. Daftar nama-nama muridnya akan menjadi panjang dengan menyebutkan : Al-Mizzi, Ibnu Rajab, Ibnu Abdul Hadi, yang termasuk murid-muridnya atau murid-murid sahabat-sahabatnya dari kalangan imam-imam besar yang memenuhi sejarah Islam. Saya tidak hanya mengatakan, mereka memenuhi perpustakaan Islam saja. Bahkan mereka memenuhi sejarah Islam dengan kesungguhan, perjuangan, ilmu, akhlaq, adab, tingkah laku mereka dan banyak lagi hal-hal lainnya.

Imam Ibnu Taimiyah juga pada masanya, dia hidup pada masa bergelombangnya fitnah-fitnah dan tersebarnya ujian-ujian. Mulai fitnah Tartar sampai fitnah Rawafidh, juga fitnah tersebarnya madzhab Asy’ariyah yang menyimpang dan lain-lainnya. Dia turun di setiap medan bagai tentara berkuda yang besar dengan membawa pedang, pena, dan mata lembing. Dia menulis, berjihad, dan membela. Dia diperdaya, dimusuhi, dan bersabar. Hingga pada suatu saat dia mendapat kehormatan dari sebagian sulthan (penguasa). Sulthan tersebut datang kepada Ibnu Taimiyah dengan membawa musuh-musuhnya yang memfitnah tentang dirinya, memenjara, menyakiti, mengusir dan mendzaliminya. Sulthan berkata kepadanya : “Apa yang akan kamu lakukan kepada mereka ?” Dia menjawab : “Saya memberi maaf kepada mereka”. Maka mereka kagum kepadanya. Mereka berkata : “Wahai Ibnu Taimiyah, kami mendzalimimu dan kamu mampu untuk membalasnya, tetapi kamu memberikan maaf?” Dia menjawab : “Ini adalah akhlak orang-orang beriman”. Memang, akhlak ini tidak dimilki kecuali oleh orang-orang istimewa saja. Yaitu, kamu memberi maaf, padahal kamu pada posisi yang tinggi, terlebih-lebih setelah banyak didzalimi oleh orang yang diberi maaf. Oleh karena itu, apabila kita membaca sejarah, kita tidak mendengar seorang yang namanya Bakri dan Akhna’i kecuali karena Ibnu Taimiyah telah membantah keduanya. Nama Ibnu Taimiyah selalu naik dan melambung sebagaimana firman Allah.

“Artinya : Dan kami tinggikan bagimu sebutan (nama)mu?”[Alam Nashrah : 4]

Imam Ibnul Qayyim berkata tentang ayat ini : “Sesungguuhnya setiap orang yang menolong sunnah, meninggikan sunnah dan mendukung Ahlus Sunnah, dia mendapatkan bagian dari firman Allah “Dan kami tinggikan bagimu sebutan (nama)mu?” [Alam Nashrah : 4] Setiap orang yang merusak sunnah dan menentang Ahlus Sunnah, dia mendapatkan bagian dari firman Alllah.

“Artinya : Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu, dialah yang terputus” [Al-Kautsar : 3]

Mereka (musuh-musuh sunnah) itu terputus. Sedangkan mereka (penolong-penolong sunnah) mendapatkan pertolongan dan derajat ketinggian.

Lihatlah anjuran dan jihad Ibnu Taimiyah terhadap bangsa Tartar dalam peperangan Syaqhab. Ada orang yang berkata : “Sesungguhnya kami pasti akan menang!”. Maka Ibnu Taimiyah berkata kepadanya : “Katakanlah insya Allah!”. Dia berkata : “Saya mengatakan insya Allah sebagai perwujudan bukan penundaan”. Karena dia percaya kepada pertolongan Allah. Merasa tenang dengan taufik dari Allah, dan bertawakal kepada Allah, maka Allah mencukupinya.

Inilah Ibnu Taimiyah. Dia telah menulis bantahan kepada Asy’ariyah dan Mutakallimin (ahli filsafat) dalam kitab-kitab yang besar. Diantaranya, kitab bantahan kepada Fakhruddin Ar-Razi yang telah membangun madzhabnya yang menyimpang dalam sebuah kitab, yang dinamakan dengan At-Ta’sis. Ibnu Taimiyah menulis bantahan kepadanya sebanyak 4 jilid. Kitab yang dibantah tersebut sekitar kurang lebih seratus halaman. Dibantah oleh Ibnu Taimiyah dengan kitab sebanyak 4 jilid. Berisi tentang penjelasan kesesatan Jahmiyah dan pembongkaran dasar-dasar bid’ah halamiyah (filsafat). Kitab tersebut, dua jilid besar telah dicetak dan selebihnya insya Allah akan dicetak dalam waktu dekat.

Dia juga menulis bantahan kepada Al-Amidi, Al-Ghazali, dan lain-lainnya dalam sebuah kitab yang besar sekali yang diberi nama “ Dar’u Ta’arudil Aql wan Naql”. Kitab tersebut punya nama lain. Kedua nama tersebut adalah nama satu kitab. Sebagian orang menyangka dua nama kitab itu untuk dua kitab. Yaitu kitab “Muwafaqatu Shahihil Manqul li Shahihi Ma’qul” yang di tulis untuk membantah kelompok di atas.

Dia juga menulis bantahan kepada kelompok Syi’ah yang buruk, dengan sebuah kitab yag diberi nama “Minhajus Sunnah Nabawiyah fi Naqdi Kalamisy Syi’atil Qadariyah” Dia menulis 10 jilid sebagai bantahan kepada salah satu pembesar mereka yang bernama Al-Muthahhar Al-Hilli atas kitabnya yang berjudul Minhajul Karomah. Dia membantahnya dalam 10 jilid.

Kelompok Syi’ah sudah dikenal sebagai musuh bebuyutan. Mereka selalu mencari kesalahan apa saja yang dilihatnya, kecuali Ibnu Taimiyah. Bahkan sampai sekarang mereka tidak bisa membantah dan menjawab hujjah-hujjah dan dalil-dalilnya. Oleh karena itu kamu melihat mereka diam, membisu, tidak mau berbicara. Kitab tersebut masih tetap dicetak, diterbitkan, bahkan diterjemahkan dan dipelajari. Di hadapan kitab tersebut tidak bisa bergerak. Inilah Ibnu Taimiyah, seorang imam yang merupakan ulama terbesar bagi da’wah yang agung dan penuh berkah ini.

Dengan melihat sejarah dan riwayat hidupnya, akan didapatkan banyak hal tentang Ibnu Taimiyah. Tetapi yang terlintas secara khusus dalam diri adalah suatu hal, yaitu bahwa Ibnu Taimiyah meninggal dunia di dalam penjara karena tipu daya dan di fitnah oleh musuh-musuhnya di hadapan Sulthan (penguasa). Meskipun demikian, ahli sejarah mengatakan tatkala Ibnu Taimiyah meninggal dunia di dalam penjara dan dikeluarkan jenazahnya, maka semua penduduk Damaskus keluar, kecuali empat orang karena takut. Bila mereka keluar akan dibunuh oleh orang-orang. Penduduk Damaskus semuanya keluar kepada jenazahnya. Oleh karena itu perkataan yang masyhur dari Imam Besar Ahmad bin Hambal adalah : “Katakanlah kepada ahlul bid’ah perjanjian antara kami dan kalian adalah hari jenazah”.
Kalau kita melihat muridnya, Imam Ibnul Qayyim (yang saya katakan) dan saya berharap tidak berlebih-lebihan : “Dia adalah murid terbaik dari ulama terbaik sepanjang abad”. Dia memahami prinsip-prinsip dakwah Ibnu Taimiyah. Mengolah kaidah-kaidahnya, kenyang dari semua sisi-sisinya, menimba dari semua sumber-sumbernya, dan melebihi syaikhnya dalam sesuatu yang tidak dicapai oleh syaikhnya, yaitu keindahan tutur katanya dalam menerangkan.

Tetapi saya ingin mengoreksi kepada diri saya dengan mengatakan, bahwa kita tidak mendapatkan perkataan Ibnu Taimiyah yang indah dalam karangannya, sebagaimana kita mendapatkan pada Ibnul Qayyim. Bukan berarti Ibnu Taimiyah tidak memiliki kemampuan yang sempurna dari sekedar membuat karangan dan melebihi Ibnul Qayyim. Tetapi karena kemampuannya atau kehidupannya penuh dengan cobaan. Beliau tidak memiliki waktu dan kesabaran yang cukup untuk menyusun makna-makna dan kata-kata sebagaimana yang dimiliki oleh muridnya Ibnul Qayyim. Ini adalah masalah yang sangat penting untuk dicermati.

Diantara hal-hal yang berkaitan dengan Ibnu Taimiyah, saya akan menyebutkan suatu yang penting. Bahwa Imam Ibnu Taimiyah Rahimahullah memiliki perkataan yang indah, yang dia terapkan sendiri pada dirinya, dan disebarkan oleh murid-murid beliau. Sampai sekarang kita mengulang-ulanginya, karena perkataan itu diambil dari firman Allah. Perkataan itu adalah.

“Dengan kesabaran dan keyakinan, keimanan dalam agama dicapai”

Perkataan ini dibenarkan oleh firman Allah.

“Artinya : Dan kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka sabar. Dan adalah mereka meyakini ayat-ayat Kami” [As-Sajdah : 24]

Inilah Ibnu Taimiyah, seorang ulama yang sangat masyhur dalam dakwah mentauhidkan Allah Azza wa Jalla.

[Disalin dari Majalah As-Sunnah Edisi 03/Tahun VI/1423H/2002M, Diambil dari materi ceramah Syaikh Ali bin Hasan bin Ali bin Abdul Hamid Al-Halabi Tanggal 3-6 Muharram 1423H di Ma’had Ali Al-Irsayd Surabaya dengan judul A’lam Dakwah Salafiyah Diterjemahkan oleh Azhar Rabbani dan Muslim Atsari]
Kategori: Fokus Utama
Sumber: http://www.almanhaj.or.id
Tanggal: Selasa, 14 Februari 2006 10:40:15 WIB

Ulama-Ulama Pembela Dakwah Salafiyah Dahulu Hingga Sekarang -Imam Ahmad Bin Hambal Rahimahullah-

-Bagian Pertama dari Tiga Tulisan 1/3-

Oleh : Syaikh Ali bin Hasan bin Ali bin Abdul Hamid Al-Halabi

Sesungguhnya keistimewaan terbesar yang dimiliki dakwah Salafiyah yang penuh berkah ini adalah tegaknya dakwah tersebut di atas sunnah yang shahih. Dakwah ini tidak bersandar kepada hadits-hadits lemah dan palsu. Pada keadaan seperti itu, para penuntut ilmu syar’i juga telah mengetahui secara jelas tentang pengertian hadits shahih dan syaratnya. Termasuk syarat terbesar adalah bersambungnya sanad dengan para perawi yang terpercaya. Ada juga sayarat-syarat lain, yang sekarang kami tidak membicarakannya dan menyebutkannya. Termasuk syarat hadits shahih adalah bersambungnya sanad dengan para perawi yang terpercaya. Maka syarat orang yang menisbatkan dirinya ke dalam dakwah Salafiyah, dakwah yang berdiri tegak di atas hadits yang shahih, harus memiliki silsilah dakwah itu sendiri. Artinya dia harus mengambil manhajnya dari para masyayaikh dan ulamanya yang terpercaya. Para masayaikhnya adalah para ulama yang mengambil manhajnya dari para masyayaikhnya, dan seterusnya. Orang yang datang kemudian, mengambil dari orang yang sebelumnya. Seorang murid mengambil dari syaikhnya. Anak mengambil dari ayah, cucu mengambil dari kakek, dengan sanad yang bersambung kepada orang-orang yang terpercaya dari kalangan ulama besar dan tinggi. Meskipun bukan termasuk syarat majlis kita ini, membahas secara panjang lebar masalah ini hingga keluar dari topik pembicaraan majlis.

Hanya saja, di sini saya akan menyebutkan suatu hal yang penting, berkaitan dengan sekelompok orang yang masuk dari sana-sini, mengaku-ngaku bermanhaj Salaf dan mengaku-ngaku menjalankah sunnah. Tetapi bila kamu periksa, perhatikan dan teliti, kamu tidak mendapatkan silsilah yang shahih dari ahlul ilmi, yang dari mereka diambil masalah-masalah manhaj dan perkara-perkara aqidahnyanya. Disamping sanad mereka munqathi’ (terputus), bahkan mu’dhal (terputus dua orang atau lebih secara berturut-turut), bahkan kadang-kadang mu’allaq mukhalkhal (terputus dari awal sanad seorang atau lebih)..

Mengetahui masalah ini saja, sudah cukup untuk merobohkan pengakuan-pengakuan mereka. Sudah cukup untuk menolak perbuatan mereka, serta menghancurkan persangkaan-persangkaan dan pemikiran-pemikiran mereka. Kita tidak perlu lagi banyak berdebat dan bicara. Saya berharap kepada saudara-saudaraku supaya memperhatikan masalah ini, merenungkan dengan seksama, dan memahami dengan sebaik-baiknya.

Memang dakwah kita berdiri diatas silsilah (mata rantai) para ulama terpercaya. Ulama yang datang kemudian mengambil dari ulama yang sebelumnya, dan ulama muta’akhir (belakang) mengambil dari ulama mutaqaddim (dahulu). Ini adalah bukti kebenaran sabda Rasulullah صلی الله عليه وسلم dalam hadits yang dishahihkan oleh Imam besar Ahmad bin Hanbal dan lain-lainnya, bahwa Nabi صلی الله عليه وسلم bersabda.

“Artinya : Ilmu ini akan dibawa oleh orang-orang yang adil dari setiap generasi, mereka itu meniadakan perubahan orang-orang yang melampui batas, kedustaan orang-orang yang berbuat kebatilan, dan penta’wilan orang-orang bodoh”.

Sabda Nabi صلی الله عليه وسلم ‘yahmilu hadza al-ilma’ = adalah fi’il mudhari (kata kerja yang menunjukkan waktu sedang dan akan datang), memberikan faidah terus menerus dan berkesinambungan. Dan sabda Nabi صلی الله عليه وسلم ‘min kulli kholafinin’ = dari setiap generasi. Sifat keseluruhan ini sesuai dengan maknanya secara sempurna. Maka, baik di zaman ini atau sebelumnya, pada setiap generasi (sejak dahulu dan sesudahnya), tidak pernah kosong dari orang yang menegakkan hujjah untuk Allah. Orang yang menolong Allah Azza wa Jalla dengan bayyinah (keterangan), meninggikan tauhid dengan burhan (bukti). Maka tegaklah prinsip ini di atas pondasinya, tegak di atas hujjahnya, dan dikuatkan oleh sabda Nabi صلی الله عليه وسلم.

“Artinya : Senantiasa ada segolongan dari umatku yang menegakkan kebenaran tidak membahayakan mereka orang-orang yang menyelisihinya dan tidak pula orang-orang yang menghinakannya sampai terjadi Kiamat dan mereka tetap dalam keadaannya demikian”.

Sabda Nabi صلی الله عليه وسلم, “ laa yazaalu “(senantiasa} juga memberi faedah terus menerus. Dan sabda Nabi صلی الله عليه وسلم “ilaa an taqumu as-saa’ah” (sampai terjadi kiamat), menguatkan kepada faidah tersebut.

Di sini ada catatan, bahwa kata tha’ifah kadang-kadang diucapkan dengan makna jama’ah (sekelompok orang). Kadang-kadang diucapkan dengan makna satu orang. Maka jumlah paling sedikit untuk tegaknya kebenaran yang agung, yaitu kebenaran yang didakwahkan oleh ulama-ulama kita dan ditegakkan oleh pembesar-pembesar kita dalam dakwahnya, adalah tidak kosongnya zaman dari satu orang ulama yang meninggikan kalimah Allah dan menegakkan kebenaran.

Wahai saudara-saudara fillah …

Sebagaimana dikatakan, ini adalah mukadimah yang harus ada, agar persoalannya dapat tercakup. Yang demikian itu seperti jalan yang sudah diratakan untuk kita masuki dengan suatu hal sedikit demi sedikit, berupa sebutan baik dan agung untuk ulama-ulama besar kita pada zaman dahulu hingga sekarang.

Andaikata kita mau menyebutkan secara tuntas, kita pasti memerlukan majlis yang panjang. Bahkan beberapa majlis, bahkan berhari-hari, berbulan-bulan, dan bertahun-tahun. Tetapi, mukaddimah di atas adalah petikan yang kami harapkan bisa memberikan penerangan. Walaupun saya tidak bisa mengatakan sudah cukup dan tidak pula mengatakan sudah terpenuhi. Hal itu agar dapat menerangi pikiran, sehingga kita terpacu membahas dan memperhatikan riwayat hidup para ulama yang akan kita pilih sebagiannya untuk dibicarakan. Sebab kalau tidak demikian (bila kita menghendaki untuk menyebutkan secara keseluruhan), pasti hal itu akan menjadi luas tidak terbatas dan menjadi banyak tidak terhitung. Kita akan membicarakan dalam waktu yang pendek ini beberapa petikan singkat yang berkaitan dengan ulama-ulama dakwah Salafiyah semenjak dahulu hingga sekarang. Beberapa ulamanya yang memiliki posisi dan pengaruh di dalam dakwah yang penuh berkah ini.

Kita tidak ingin memulai dari kalangan sahabat, karena mereka pondasi pertama dalam dakwah tersebut. Tetapi kami ingin memulai dengan ulama yang mengalami pertentangan pada masanya, dan kebenaran tidak diketahui kecuali dengan lawannya sebagaimana yang dikatakan oleh penyair.

Sesuatu itu dinampakkan kebaikannya oleh lawannya
Dengan lawan sesuatu akan menjadi jelas.

IMAM BESAR AHMAD BIN HAMBAL RAHIMAHULLAH

Dia hidup pada masa bergelombangnya aqidah yang rusak dan bergeraknya pendapat yang tidak bermanfaat. Dia menghadapi keadaan tersebut dengan kokoh, kuat dan teguh, sehingga jatuh dalam kesusahan ujian dan fitnah. Tetapi tetap sabar dan teguh, walaupun disiksa dalam fitnah khalqil Qur’an (fitnah aqidah yang menyatakan Al-Qur’an adalah makhluk). Beliau dituntut agar diam dari lawannya, bukan meninggalkan kebenaran. Dia tidak peduli, maka disiksa, dipenjara, diikat, dan diusir. Dia hadapi semua itu dengan tabah, karena di jalan Allah سبحانه و تعالى dan ringan karena di dalam ketaatan kepada Allah سبحانه و تعالى. Ketika datang sebagian sahabatnya berkata kepadanya : “Wahai Abu Abdillah, andaikata engkau diam saja (maka engkau tidak disiksa)!”. Dia berkata : “Apabila saya diam dan kamu diam, maka siapakah yang akan mengajari orang yang bodoh dan kapan akan mengajari orang yang bodoh ?”.

Ini adalah salah satu alamat dan pintu dakwah. Kesabaran dan keteguhan ini menjadi contoh dan teladan bagi kita dari imam kita. Mereka berhak mendapatkannya. Semoga Allah memberi rahmat kepada mereka setelah meninggal dunia. Menjaga mereka untuk kita, ketika mereka masih hidup. Allah meninggikan nama mereka, karena kesabaran, keimanan, dan amanahnya, serta mereka menegakkan kebenaran dengan laranganNya dan perintahNya.

Pribadi Imam Ahmad juga mempengaruhi Imam Abul Hasan Al-Asy’ari. Pada zaman ini banyak orang menisbatkan kepadanya, bahkan sejak dahulu. Dia mengatakan di dalam kitabnya, “Maqalat Islamiyyin wa Ikhtilaf Mushallin”, setelah menyebut aqidah Ahlus Sunnah Ashabul Hadits : “Ini semuanya adalah aqidah Imam Ahmad bin Hambal. Saya berjalan di atas jalannya, dan mengikuti serta menyeru aqidahnya”. Atau seperti apa yang dia katakan.

Disini kami menngingatkan suatu hal, yaitu banyak orang-orang khusus maupun orang-orang umum menisbatkan dirinya kepada Abu Hasan Al-Asy’ari, tetapi penisbatannya tidak benar. Meskipun mereka menisbatkan kepada namanya, tetapi kenyataannya tidak menisbatkan kepadanya, baik dalam aqidah maupun manhajnya.

Imam Abul Hasan, dahulu penganut paham Mu’tazilah. Kemudian sebagaimana dalam kisah yang masyhur, dia berdiri di atas mimbar di hadapan banyak manusia lalu melepas bajunya dan berkata : “Aku bersaksi kepada Allah, kemudian bersaksi kepada kalian bahwasanya saya melepas paham Mu’tazilah dari diriku, sebagaimana saya melepas bajuku ini”. Ini juga merupakan tanda kejujuran kepada Allah, kejujuran kepada manusia, dan kejujuran kepada diri sendiri dalam mentaati Allah.

Tetapi suatu hal yang sudah jelas wahai saudara-saudara fillah, kembali dari sesuatu tidak cukup dalam sehari semalam. Keberhasilan sesudah kotor, tidak seperti selembar kertas yang disobek dari buku atau perkataan yang ditinggalkan. Pasti masih terdapat pengaruh-pengaruh kotorannya. Dalam meninggalkan paham Mu’tazilah atau setelah meninggalkan paham Mu’tazilah, Imam Abul Hasan Al-Asy’ari belum terlepas dari sisa-sisa yang masih melekat pada dirinya.

Setelah itu, dalam kitabnya “Al-Ibanah fi Ushulid Diyanah”, dan dalam kitabnya “Maqalat” yang sudah saya isyaratkan tadi, juga dalam kitabnya “Risalah ila Ahli Tsaghar”, nampak keadaannya secara jelas dan terang. Bahkan dia menjelaskan secara terang, tanpa ada kesamaran, bahwa dia diatas aqidah Salafiyah.

Memang banyak orang dari kalangan Asy’ariyah yang menisbatkan kepada Abul Hasan. Mereka itu tidak berada pada jalan Mu’tazilahnya yang pertama, tetapi juga tidak pada jalan Salafiyahnya yang terakhir. Mereka berada pada tingkatan kedua, bukan dari Mu’tazilah dan bukan dari Sunnah. Tetapi jalan yang bercampur di dalamnya antara amal shalih dan amal buruk. Padahal tidak boleh menisbatkan kepada Abul hasan dalam hal yang sudah ditinggalkannya. Mereka itu menyelisihi Abu Hasan dan menyelisihi aqidah Salaf, yang dia telah menyatakan untuk mengikuti dan tetap di atas aqidah tersebut.

Inilah, wahai saudaraku, Imam Ahmad dalam petikan yang sangat sedikit tentang sikap dan keteguhannya. Dia adalah ulama besar sepanjang sejarah dakwah ini pada abad-abad pertama.


[Disalin dari Majalah As-Sunnah Edisi 03/Tahun VI/1423H/2002M, Diambil dari materi ceramah Syaikh Ali bin Hasan bin Ali bin Abdul Hamid Al-Halabi Tanggal 3-6 Muharram 1423H di Ma’had Ali Al-Irsayd Surabaya dengan judul A’lam Dakwah Salafiyah Diterjemahkan oleh Azhar Rabbani dan Muslim Atsari]
Kategori: Fokus Utama
Sumber: http://www.almanhaj.or.id
Tanggal: Senin, 13 Februari 2006 12:16:09 WIB

Salafiyyun Menepis Tuduhan Dusta

Oleh : Syaikh Ali bin Hasan bin Ali bin Abdul Hamid al Halabi

Anda telah mendengarkan bersama, untaian kalimat [1] yang mengandung penjelasan seputar ad-da'wah as-Salafiyah, ajaran-ajaran pokoknya yang ilmiah, yang berkaitan dengan aqidah dan manhaj (metode memahami agama). (Anda semua telah mendengarkan), seluruh penjelasannya ternyata sangat berkaitan dengan "qalallah" (Allah berfirman) dan "qala Rasulullah صلی الله عليه وسلم" (Rasulullah صلی الله عليه وسلم bersabda). Jauh dari segala opini pribadi, perkataan manusia, prediksi, dan prasangka. Dakwah seperti inilah yang benar-benar warisan ajaran kenabian. Dakwah seperti inilah yang benar-benar layak, pantas dan berhak dibawa oleh umat, dan diwariskan dari generasi ke generasi, sejak generasi pertama umat ini yang terang-benderang, hingga saat ini, dan hingga Allah menghendaki konsistensi dakwah ini tetap berlangsung.

Ad-da'wah as-Salafiyah adalah dakwah Islam. Dakwah ini murni, tanpa tambahan-tambahan, hiasan-hiasan, atau dekorasi-dekorasi. Ad-da'wah as-Salafiyah adalah dakwah menuju al Qur`an dan as-Sunnah dengan pemahaman salaful-ummah (generasi terdahulu yang shalih). Jika hanya satu sifat ini saja yang disampaikan kepada setiap orang yang berakal dan berpikir, pastilah sudah cukup, tanpa perlu penjelasan lebih lanjut yang berkepanjangan.

SEBAB-SEBAB MUNCULNYA TUDUHAN DUSTA
Akan tetapi, kita hidup pada zaman yang sulit, penuh kerusakan dan fitnah. Kita hidup pada zaman yang orang-orangnya hidup dengan penuh kontradiksi, kecuali insan-insan yang Allah berikan rahmat-Nya kepadanya (yang akan terlindung dari fitnah ini). Kontradiksi, yang kini sebagian orang dari umat ini sudah terbiasa bergaul dan hidup dengannya, telah menjerumuskan mereka ke dalam ketidakpahaman. Bahkan menjerumuskan ke dalam pemahaman yang keliru dan terbalik. Karena, apabila ketidakpahaman sebagai suatu kesalahan yang ringan, maka pemahaman yang keliru dan terbalik adalah kesalahan yang berlipat ganda dan fatal. Akhirnya, jatuhlah manusia ke dalam kejahilan (kebodohan), yang pada hakikatnya berasal dari diri mereka sendiri. Namun, kemudian mereka putar-balikkan, mereka tuduhkan dan mereka lontarkan kepada orang lain.

Mereka menuduh dengan sekian banyak tuduhan (dusta) kepada dakwah al Qur`an dan as-Sunnah ini. Mereka melontarkan sekian banyak syubhat (kerancuan-kerancuan) kepada dakwah al Qur`an dan as-Sunnah ini. Namun, jika kita perhatikan dan teliti lebih dalam, ternyata tuduhan-tuduhan dan lontaran-lontaran dusta tersebut tidak berarti sama sekali. Bahkan tidak ada hakikatnya sama sekali. Seluruhnya serba terbalik dan berbalik (kepada mereka sendiri), bagaikan kaca yang pecah dan hancur berantakan.

MENUDUH ADALAH "LAGU LAMA" ORANG-ORANG BODOH DAN MENYIMPANG
Pintu tuduhan dan lontaran syubhat merupakan pintu yang sudah lama dan usang. Pintu ini sudah sering menimpa orang-orang yang konsisten dengan al Haq (kebenaran). Jarang di antara mereka yang selamat dari tuduhan ini. Bahkan Rabbul 'Alamin (Allah) سبحانه و تعالى pun terkena tuduhan-tuduhan dusta, dan hanya bagi-Nya segala perumpamaan yang Maha Tinggi. Allah pun dituduh tanpa haq sama sekali! Hingga Allah menurunkan ayat-ayat yang banyak untuk membantah orang-orang bodoh yang dipenuhi dengan syubhat. Orang-orang bodoh itu tidak menghargai dan tidak mengagungkan Allah dengan sebenar-benar penghargaan dan pengagungan. Seperti firman-Nya

“Artinya : Katakanlah: "Dia-lah Allah, Yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan. Dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia." [Al-Ikhlash : 1-4]

Sebagai bantahan kepada orang-orang bodoh yang berkata bahwa Allah memiliki anak. Maha Suci Allah Yang Maha Tinggi.

Rasulullah صلی الله عليه وسلم pun dituduh. Beliau dituduh sebagai seorang penyair. Allah pun turunkan ayat untuk membantah tuduhan tersebut. Allah berfirman.

“Artinya : Dan al-Qur`an itu bukanlah perkataan seorang penyair, . .”[Al-Haqqah : 41]

Para sahabat رضي الله عنهم juga dituduh. Mereka dituduh, bahwa mereka merebut kekuasaan dan kepemimpinan. Mereka dituduh dengan tanpa haq. Dan begitulah seterusnya! Mereka (para sahabat) dan orang-orang yang berpegang teguh dengan al Haq terus dituduh dan dituduh.

Lihatlah kaum Nuh ‘عليه السلام ! Mereka menuduh Nabi mereka. Padahal ia telah tinggal dan hidup bersama mereka dalam waktu yang sangat lama, namun, ia tetap tidak selamat dari tuduhan. Mereka menuduhnya tatkala sudah tidak mampu lagi mengungkapkan dan mengemukakan hujjah, dalil, dan bukti kepada Nabi Nuh عليه السلام . Bagaimana firman Allah tentang mereka? Allah berfirman.

“Artinya : Mereka berkata; "Hai Nuh! Sesungguhnya kamu telah berbantah dengan kami, dan kamu telah memperpanjang bantahanmu terhadap kami, maka datangkanlah kepada kami adzab yang kamu ancamkan kepada kami! Jika kamu termasuk orang-orang yang benar". [Hud : 32]

Mereka melontarkan tuduhan-tuduhan kepadanya. Mereka menuduh nuh sebagai tukang jidal (bantah). Padahal (mereka mengetahui), bahwa Nuh menyampaikan al Haq, berbicara dengan yang haq, dan tidaklah ia berpegang teguh kecuali dengan al Haq, karena ia seorang Nabi! Namun betapapun demikian, orang-orang yang menyelisihi al Haq tetap tidak mau tunduk dan patuh. Bahkan mereka semakin membangkang, mengejek, mencemooh, dan mendustakan. (Akhirnya) mereka pun semakin jauh terperosok ke dalam syubhat, dan semakin gencar melontarkan syubhat.

SYUBHAT BERSUMBER DARI DUA PENYAKIT BERBAHAYA
Tuduhan-tuduhan yang dilontarkan dengan dibalut pakaian syubhat ini bersumber dari dua penyakit kronis yang telah menyerang para pelakunya.

Penyakit pertama : Ialah sedikitnya ilmu.
Seandainya pada diri mereka terdapat ilmu, bukti, dan penjelasan yang benar, tentulah al haq dan al huda (petunjuk) itu dapat langsung dikenal dengan mudah dari para da'i dan orang yang berpegang teguh dengannya. Namun, sayangnya mereka bagaikan perumpamaan Arab
عَنْزَةٌ وَلَوْ طَارَتْ
(dia tetap seekor kambing walaupun terbang). Mereka - memaksakan diri- ingin memunculkan segala sesuatu yang ada dalam pikiran-pikiran dan kepala-kepala mereka, walaupun dengan syubhat yang paling lemah sekalipun, dan meskipun dengan sebab yang paling remeh sekalipun.

Penyakit kedua : Yaitu lemah dan tipisnya agama.
Seandainya agama mereka kokoh dan kuat, tentulah tidak akan tergesa-gesa melontarkan tuduhan-tuduhan yang mereka bangun berdasarkan prasangka, ketidakpastian dan tanpa ilmu. Nabi صلی الله عليه وسلم telah bersabda

...
وَمَنْ قَالَ فِيْ مُؤْمِنٍ مَا لَيْسَ فِيْهِ، أَسْكَنَهُ اللهُ رَدْغَةَ الْخَبَالِ، حَتَّى يَخْرُجَ مِمَّا قَالَ
. …

“Artinya : ..Dan barangsiapa yang berkata kepada seorang mukmin sesuatu yang tidak ada padanya, Allah akan tempatkan dia di radghatul-khabal, sampai ia keluar dari apa yang ia ucapkan” [2]

Dan radghatul-khabal (
رَدْغَةُ الْخَبَالِ
) adalah cairan (perasan) para penghuni neraka”.

Nabi صلی الله عليه وسلم juga bersabda:

((
إِيَّاكُمْ وَالظَّنَّ، فَإِنَّ الظَّنَّ أَكْذَبُ الْحَدِيْثِ
...)).

“Artinya : Waspadalah kalian dari berprasangka, karena sesungguhnya prasangka itu sedusta-dusta perkataan…” [3]

Nabi صلی الله عليه وسلم juga bersabda:
لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لأَخِيْهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ
.

“Artinya : Tidak sempurna iman seseorang di antara kalian sampai ia mencintai untuk saudaranya, seperti ia mencintai untuk dirinya sendiri” [4]

Seandainya pada diri mereka terdapat ilmu yang cukup dan keimanan yang melindungi (mereka dari perbuataan tercela ini, Red.), tentulah mereka tidak akan berani menyelami samudera tuduhan, fitnah, celaan, dan syubhat yang memecah-belah umat ini, di saat mereka mengira dan menyangka bahwa ad-da'wah as-Salafiyah adalah dakwah yang memecah-belah umat. Inilah salah satu syubhat dari beragam syubhat mereka, yang akan datang bantahan dan jawabannya, insya Allah Ta'ala.

NASIHAT AL IMAM IBNUL QAYYIM DALAM MENGHADAPI SYUBHAT
Sebelum saya (Syaikh Ali bin Hasan -hafizhahullah-) memulai menyebutkan syubhat-syubhat dan bantahannya, maka saya persembahkan untuk seluruh saudara-saudaraku, seuntai kalimat dan nasihat yang diucapkan oleh al Imam Ibnul Qayyim, yang beliau dapatkan dan nukilkan dari Syaikh-nya, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah.

Al Imam Ibnul Qayyim -dalam kitabnya Miftahu Daris-Sa'adah- berkata: "Tatkala syubhat-syubhat begitu banyak bertumpuk di depan diriku, dan tatkala keinginan-keinginan (tidak baik) berdatangan kepadaku, aku adukan semuanya ini kepada Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah" [5]

Jadi, ketika syubhat-syubhat muncul, pada saat itu muncul pula kegelapan. Lalu dengan adanya ilmu, datanglah cahaya terang.

Syubhat-syubhat telah mendatangi seorang murid ini (al Imam Ibnul Qayyim). Lantas ia pun segera bergegas menuju gurunya untuk belajar, meminta fatwa dan penjelasan tentang al haq dari gurunya.

Ia berkata, "Aku pun pergi kepada Syaikh kami, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah. Lalu aku beritahu beliau tentang syubhat-syubhat dan keinginan-keinginan (buruk) ini. Beliau berkata kepadaku,'Jadikan hatimu seperti cermin; jika datang syubhat kepadamu, syubhat tersebut akan kembali berbalik kepada orang yang melontarkan dan mengatakannya. Dan jangan jadikan hatimu seperti busa; jika datang syubhat kepadamu, ia akan menyerap dan menelannya'."

Demikianlah Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah menasehati muridnya, hingga al- Imam Ibnul Qayyim pun berkata: "Demi Allah, aku belum pernah mendapatkan manfaat setelah aku masuk Islam dari sebuah wasiat dan nasihat seperti manfaat (yang aku dapatkan) pada wasiat dan nasihat ini"[6]

Inilah yang ingin saya jelaskan kepada saudara-saudaraku semuanya sebagai permulaan dan mukadimah. Berikut ini penjelasannya.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 01/Tahun XI/1428H/2007. Disunting dari muhadharah di Masjid Islamic Center Jakarta, Ahad, 23 Muharram 1428H/11 Februari 2007M, Diterjemahkan oleh Ustadz Abu 'Abdillah Arief B. bin Usman Rozali]
__________
Foote Note
[1].Yang disampaikan sebelumnya oleh Syaikh Salim bin Id Al-Hilali –hafizhahullah-
[2]. HR Abu Dawud (3/305 no. 3597), Ahmad (2/82), dan lain-lain, dari hadits Abdullah bin Umar رضى الله عنهما, dan ini lafazh dalam Sunan Abi Dawud. As-Silsilah ash-Shahihah (1/798 no. 437)
[3]. HR Al-Bukhari (5/1976, 2253 no. 4849 dan 5717, 6/2474 no. 6345), Muslim (4/1985 no. 2563), dan lain-lain, dari hadits Abu Hurairah رضي الله عنه.
[4]. HR Al-Bukhari (1/14 no. 13), Muslim (1/67, 68 no. 45), dan lain-lain, dari hadits Anas bin Malik رضي الله عنه
[5]. Syaikh Ali bin Hasan –hafizhahullah- membawakan perkataan Al-Imam Ibnul Qayyim ini secara makna. Lihat Miftahu Daris Sa’adah (1/442-443)
[6]. Perkataan Syaikhul Islam dan Al-Imam Ibnul Qayyim ini pun dibawakan Syaikh Ali bin Hasan -hafizhahullah- secara makna. Kemudian beliau mengomentari wasiat syaikhul Islam Ibnu Taimiyah ini dan berkata : “Kata-kata yang sudah sepantasnya ditulis dengan air mata, karena begitu agungnya. Maka, hafalkanlah!”. Lihat catatan kaki dalam tahqiq beliau terhadap kitab ini, Miftahu Daris Sa’adah (1/443)


BEBERAPA SYUBHAT DAN TUDUHAN MEREKA, SERTA BANTAHANNYA
[1]. Salafiyyun Para Penjilat Pemerintah?
Syubhat pertama, dari sekian banyak syubhat dan tuduhan mereka adalah, mereka menyangka -dan seburuk-buruk bekal dan modal seseorang adalah prasangka-, bahwa as-Salafiyyun adalah orang-orang yang paling dekat dengan pemerintah dan penguasa! Ini syubhat yang dusta!

As-Salafiyyun bukanlah orang-orang yang dekat dengan pemerintah dan penguasa. Bahkan mayoritas Salafiyyun tidak memiliki profesi atau pekerjaan resmi (dari pemerintah, Red). Mereka juga bukan orang-orang yang berkedudukan dan berpangkat tinggi. Seandainya pun ada di antara as-Salafiyyun yang memiliki profesi atau pekerjaan resmi, atau berkedudukan dan berpangkat tinggi, maka sesungguhnya orang-orang yang menuduh Salafiyyun dengan tuduhan seperti itu tidak tepat dengan tuduhan mereka. orang-orang itu pun keliru dalam syubhat mereka sendiri!

Mungkin yang ingin mereka tuduhkan adalah, bahwa Salafiyyun tidak memusuhi pemerintah atau penguasa. Maka, kita katakan: Ya! Kita memang tidak memusuhi pemerintah, kita juga tidak memerangi mereka. Akan tetapi, kita berlepas diri kepada Allah, dari hal-hal yang menyelisihi syari'at Allah.

Nabi صلی الله عليه وسلم telah bersabda:

...
إِنَّمَا الطَّاعَةُ فِي الْمَعْرُوْفِ
. …

“Artinya : Sesungguhnya ketaatan hanya dalam hal yang baik”

Dan bersabda:

...
لاَ طَاعَةَ لِمَخْلُوْقٍ فِي مَعْصِيَةِ الْخَالِقِ
. …

“Artinya : Tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam kemaksiatan kepada Pencipta (Allah سبحانه و تعالى ) [8].

Dan lebih khusus lagi para pemimpin atau penguasa.

Ketika Nabi صلی الله عليه وسلم ditanya oleh para sahabat tentang para pemimpin yang berhukum dan menyelisihi hukum tersebut, mereka berkata:
يَا رَسُوْلَ اللهِ، أَفَلاَ نُنَابِذُهُمْ بِالسَّيْفِ؟


Wahai Rasulullah, tidakkah kita tentang mereka dengan pedang?

Kemudian Rasulullah صلی الله عليه وسلم bersabda:

((
لاَ، مَا أَقَامُوْا فِيْكُمُ الصَّلاَةَ
)).

“Artinya : Tidak, selama mereka menegakkan shalat pada kalian”.[9]

Jadi, tidaklah kita memusuhi para pemimpin atau penguasa, tidaklah kita memerangi mereka, dan tidaklah kita memberontak mereka, melainkan karena kita senantiasa bertolak dan berangkat dari dalil-dalil syar'i. Kita tidak bertindak berdasarkan hawa nafsu. Bahkan kita selalu bertolak dari al haq, dan tidak pernah bertolak dari kesesatan dan prasangka!

Dalam hadits lain Nabi صلی الله عليه وسلم bersabda:

((...
إِلاَّ أَنْ تَرَوْا كُفْرًا بَوَاحًا، عِنْدَكُمْ مِنَ اللهِ فِيْهِ بُرْهَانٌ
)). …

“Artinya : …Kecuali jika kalian melihat kekafiran yang jelas dan nyata, yang kalian memiliki bukti padanya dari Allah” [10]

Karenanya, merupakan sesuatu yang mustahil jika ada yang mengatakan bahwa kita bertindak dengan tanpa hujjah dan bukti yang haq.

Kemudian, sesungguhnya para pelontar syubhat dan para penuduh ini -ternyata mayoritas mereka- tatkala bertindak demikian, justru pada saat itu mereka mempropagandakan dan menyatakan pengkafiran kepada para pemerintah atau penguasa. Kalaupun ada di antara mereka yang belum mengkafirkan pemerintah pada hari ini, ia telah berada di atas jalan menuju pengkafiran. Karena memenuhi dada-dada dengan rasa benci kepada pemerintah merupakan jalan menuju pengkafiran pemerintah, menuju pernyataan tidak adanya hak pemerintah yang syar'i untuk ditaati dan dipatuhi; yang sudah jelas hal ini kontradiktif dengan al haq, sama sekali tidak sesuai dan tidak selaras dengan al haq.

[2]. Salafiyyun Tidak Peduli Dengan Urusan Kaum Muslimin Dan Tidak Mau Berjihad?
Mereka menyangka -dan seburuk-buruk bekal dan modal seseorang adalah prasangka- bahwa Salafiyyun tidak peduli dengan urusan kaum Muslimin dan tidak menegakkan Jihad. Ini syubhat yang sangat lemah!

Syubhat ini akan dijawab dari dua sisi.

Pertama, sesungguhnya kepedulian terhadap urusan kaum Muslimin merupakan salah satu dari prinsip-prinsip pokok ad-da'wah as-Salafiyah. Karena Nabi صلی الله عليه وسلم telah bersabda:

((
لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لأَخِيْهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ
)).

“Artinya : Tidak sempurna iman seorang di antara kalian sampai ia mencintai untuk saudaranya seperti ia mencintai untuk dirinya sendiri”[11]

Dan Rabbul-'Alamin telah berfirman:

“Artinya : Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain….” [At –Taubah :71]

Allah سبحانه و تعالى juga telah berfirman tatkala menerangkan sifat-sifat orang-orang Islam dan beriman:

“Artinya : (Mereka) nasihat-menasihati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran"[Al 'Ashr : 3]

Dan Nabi صلی الله عليه وسلم juga bersabda:
مَثَلُ الْمُؤْمِنِيْنَ فِيْ تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ مَثَلُ الْجَسَدِ، إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عَضْوٌ، تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى
.

“Artinya : Perumpamaan orang-orang yang beriman dalam rasa cinta mereka, kasih-sayang mereka, dan kelemah-lembutan mereka bagaikan satu tubuh. Apabila salah satu anggota tubuh sakit, maka anggota tubuh lainnya merasakan sakit dengan tidak tidur dan demam” [12]

Inilah prinsip-prinsip kita, inilah landasan pokok kita, inilah kaidah-kaidah dasar kita, inilah hujjah-hujjah kita, dan inilah dalil-dalil kita! Lantas adakah orang yang (mampu) menambah prinsip-prinsip ini dengan prinsip lainnya (yang lebih haq) dari yang telah kita ketahui tentang prinsip-prinsip dan ajaran-ajaran kita yang haq ini?!

Namun kenyataannya, sikap peduli yang mereka sangka dan mereka kira itu, hanyalah sekedar prasangka dan perkiraan belaka! Lalu kita lihat ada yang pandai bicara dari kalangan mereka (berdalil dan) berkata:

((
مَنْ لَمْ يَهْتَمَّ بِأَمْرِ الْمُسْلِمِيْنَ، فَلَيْسَ مِنَّا
...)).

“Artinya : Barangsiapa yang tidak peduli dengan urusan kaum Muslimin, maka ia bukan termasuk golongan kami…”. Hadits ini dha'ifun jiddan (lemah sekali)!.[13]

Ya! Peduli dengan urusan kaum Muslimin hukumnya wajib! Namun harus tepat dan sesuai dengan prinsip-prinsip syariat dan kaidah-kaidahnya. Bahkan di dalam Sunan at-Tirmidzi telah di jelaskan, bahwa Rasulullah صلی الله عليه وسلم, Abu Bakar dan 'Umar berbincang-bincang pada malam hari dan tidak tidur demi membicarakan dan menyelesaikan urusan kaum Muslimin. Sedangkan kita selalu berusaha berada di atas petunjuk dan jalan Rasulullah, Abu Bakar, 'Umar, 'Utsman, 'Ali, dan sepuluh orang sahabat yang dijamin Rasulullah masuk surga, serta tiga generasi terbaik umat ini. Kita tidak akan merubah atau berubah!

Adapun kepedulian yang mereka gembor-gemborkan ternyata kepedulian politik belaka! Mereka ingin kalau khutbah-khutbah kita hanya sebagai berita-berita yang tersebar (di masyarakat)! Mereka ingin kalau kajian-kajian kita hanya sebagai bahan-bahan berita! Mereka ingin kalau kitab-kitab dan karya-karya tulis kita berubah menjadi sekedar modul-modul dan diktat-diktat politik, atau sekedar perwakilan media-media massa! Tentu semua itu bukan perbuatan yang haq sama sekali!

Kedua, Adapun jihad, maka sesungguhnya jihad yang benar ada syarat-syaratnya. Jadi, tidak semua peperangan (melawan orang-orang kafir) dapat ditegakkan pada saat ini!

Sebagian (mereka) ada yang berkata: "Ada jihad khusus yang syar'i yang sekarang dilakukan sebagian kaum Muslimin di sebuah negara Islam!"

Ketahuilah! Jihad yang syar'i adalah jihad yang ada syarat-syaratnya, terpenuhi rukun-rukunnya, tegak kaidah-kaidahnya. Dan ia bukan jihad yang dipraktekkan oleh sebagian orang (saat ini) dengan tanpa memperhatikan syarat-syaratnya, tanpa memperhatikan kesiapan kaum Muslimin, baik secara kualitas maupun kuantitas; tanpa memperhatikan iman dan ilmu! Bahkan mereka mengadakan fatwa untuk diri mereka sendiri, atau mengambil fatwa dari ruwaibidhah (orang-orang kecil tidak berilmu yang berbicara permasalahan umat yang sangat besar), dan dari orang-orang semisal mereka.

Adapun jihad kita, maka kita selalu siap berjihad jika syarat-syaratnya terpenuhi, jika ada waliyyul-amri (pemimpin) muslim yang mengangkat dan mengibarkan bendera jihad serta meninggikannya. Jika ada fatwa syar'i para ulama besar -yang mereka- tidaklah berfatwa melainkan sesuai al haq, keyakinan, ketetapan dan kemantapan (ilmu)! Bukan fatwa dari mereka yang kecil dan remeh, yang tidak mendatangkan sebuah fatwa dan keputusan kepada kita melainkan kehinaan!

Dan jika kita lihat, kita perhatikan, dan kita teliti lagi dengan seksama bentuk dan model jihad kontemporer saat ini yang dipraktekkan oleh sebagian jama'ah-jama'ah dan partai-partai, tentulah kita lihat dan kita dapatkan berapa dan betapa banyak dampak negatif yang buruk menimpa kaum Muslimin. Ini semua tidak lain disebabkan mereka menyelisihi al haq, dari satu sisi; dan mereka menyelisihi ahlul-haq (para ulama), dari sisi lainnya! Wallahul-Musta'an.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 01/Tahun XI/1428H/2007. Disunting dari muhadharah di Masjid Islamic Center Jakarta, Ahad, 23 Muharram 1428H/11 Februari 2007M, Diterjemahkan oleh Ustadz Abu 'Abdillah Arief B. bin Usman Rozali]
_________
Foote Note
[7]. HR Al-Bukhari (4/1577 no. 4085) (6/2612, 2649 no. 6726, 6830), Muslim (3/1469 no. 1840) dan lain-lain dari hadits Ali bin Abi Thalib رضي الله عنه
[8]. Lihat Shahih Al-Jami (7520)
[9]. HR Muslim (3/1482-1482 no. 1855) dan lain-lain dari hadits Auf bin Malik Al-Asyja’i رضي الله عنه
[10]. HR Al-Bukhari (6/2588 no. 6647), Muslim (3/1470 no. 1709), dan lain-lain dari hadits Ubadah bin Ash-Shamit رضي الله عنه
[11]. HR Al-Bukhari (1/14 no. 13), Muslim (1/67, 68 no. 45) dan lain-lain, dari hadits Anas bin Malik رضي الله عنه
[12]. HR Muslim (4/1999 no. 2586), dan lain-lain, dari hadits An-Nu’man bin Basyir رضي الله عنه.
[13].. HR Ath-Thabrani dalam Al-Mu’jamul Awsath (7/270 no. 7473) dan lain-lain dari Hudzaifah bin Al-Yaman رضي الله عنه.


[3]. As-Salafiyyah Sebuah Partai Golongan?
Kemudian para pelontar syubhat itu menyangka -dan seburuk-buruk bekal dan modal seseorang adalah prasangka- bahwa ad-da'wah as-Salafiyah sama seperti partai-partai dan golongan lainnya!

Syubhat ini adalah perkataan rusak dan lemah, tidak mengandung kebenaran sedikit pun! Hal itu, karena ad-da'wah as-Salafiyah adalah dakwah Islam. Lalu, apakah mungkin dakwah Islam ini dikemas dan dibatasi hanya dalam sebuah partai atau golongan? Maksudnya, mungkinkah dakwah Islam ini hanya terbatas dan dibatasi dengan partai? Atau hanya partai ini saja yang membawa dakwah Islam?

Ini satu hal yang tidak mungkin terjadi sama sekali! Saya umpamakan tuduhan ini bagaikan sebuah kisah khurafat yang mustahil terjadi. Kisah itu adalah, terdapat sebuah bangunan menjulang tinggi yang diletakkan di sebuah bejana air.

Maka, Islam bagaikan bangunan besar yang menjulang tinggi, dan partai golongan bagaikan sebuah bejana air. Hal ini merupakan berita khurufat dan mustahil!

Kemudian, orang-orang yang melontarkan tuduhan seperti ini, jika kita ber-husnuzh zhan (bersangka baik) kepada mereka -dan mereka tidak pantas untuk di-husnuzh zhan-kan-, maka sesungguhnya kita katakan tentang mereka, bahwa mereka buruk dalam memahami (hal ini), dan keliru besar dalam memberikan gambaran. Mereka mengira bahwa setiap orang atau pun golongan yang berada di sekeliling as-Salafiyyun adalah partai-partai. Mereka mengatakan "partai ini, golongan ini, gerakan ini, organisasi ini…". Mereka dapatkan as-Salafiyyun berada di tengah-tengah mereka. Mereka pun menyama-ratakan seluruhnya. Akhirnya mereka menganggap sama ad-da'wah as-Salafiyah dengan partai-partai atau golongan-golongan lainnya.

Perumpamaan ini, bagaikan sebuah papan berwarna putih. Datang sekelompok orang kemudian mewarnainya dengan warna merah. Berarti ini golongan begini. Kemudian datang lagi sekelompok orang, dan mewarnainya dengan warna biru. Berarti ini golongan demikian. Kemudian datang lagi partai Fulan, dan mewarnainya dengan warna hijau. Kemudian datang lagi organisasi Fulan, dan mewarnainya dengan warna cokelat. Dan begitulah seterusnya.

Namun masih ada sekelompok orang yang berada di atas warna yang asli, warna putih. Mereka tidak terwarnai, mereka tidak merubah dan tidak berubah! Tetapi, kendati pun demikian, orang yang melihat mereka dari kejauhan, apa kira-kira yang akan ia katakan tentang warna putih tersebut? Orang itu akan mengatakan bahwa warna putih sama dengan warna-warna lainnya. Ad-da'wah as-Salafiyah sama dengan partai-partai atau golongan-golongan lainnya. Padahal, warna putih ini tidak berubah sama sekali; ia tetap saja berwarna putih; sebuah warna yang Nabi صلی الله عليه وسلم telah bersabda tentangnya:

...
تَرَكْتُكُمْ عَلَى الْبَيْضَاءِ، لَيْلُهَا كَنَهَارِهَا، لاَ يَزِيْغُ عَنْهَا بَعْدِيْ إِلاَّ هَالِكٌ
... . …

“Artinya : Aku tinggalkan kalian di atas (jalan) yang putih, malamnya bagaikan siangnya, tidak ada seorang pun sepeninggalku yang berpaling darinya melainkan ia (akan) binasa….”[14]

Maka, apabila warna-warna lain telah luntur, (maka) yang akan tinggal dan tetap ada hanyalah warna putih! Apabila orang-orang, golongan-golongan, dan partai-partai telah berjatuhan dari beraneka ragam warna-warni mereka, sesungguhnya mereka akan mendapatkan kembali warna yang asli; warna putih! Karena warna itulah yang pertama kali ada, dan warna itulah yang seluruh orang akan kembali kepadanya.

Berarti, tuduhan mereka (bahwa ad Da'wah as Salafiyah sama dengan partai-partai atau golongan-golongan lainnya) adalah tuduhan dusta! Prasangka bohong! Tuduhan yang berdasarkan kebodohan dan penyakit, yang seluruhnya menyelisihi al haq yang jelas-jelas nyata; dan tiada seorang pun yang dapat menolaknya!

Mereka, tatkala tidak mampu lagi menghadapi dan melawan ad-da'wah as-Salafiyah dengan ilmu, mereka menghadapinya dengan kedustaan! Mereka hadapi dengan kebohongan! Mereka hadapi dengan sesuatu yang membuat manusia lari dan merasa takut dengan ad-da'wah as-Salafiyah! Jika mereka terus dan tetap melakukan kedustaan itu, maka Allah-lah yang akan menghadapi mereka dengan keadilan-Nya, untuk tetap menegakkan kalimat-Nya yang haq!

[4]. As-Salafiyyun Fanatik Terhadap Para Ulama Mereka?
Wahai saudara-saudara, syubhat begitu banyak dan terus bertambah. Namun, tidaklah melahirkan, melainkan bagaikan hewan yang mati tercekik, atau terpukul, atau terjatuh dari tempat yang tinggi, atau tertanduk. Hal ini tidak lain karena syubhat-syubhat tersebut tidak ada kenyataannya, dan tidak ada hakikatnya sama sekali! Seluruhnya terbangun di atas kebatilan! Berdiri di atas hawa nafsu! Ia sungguh berbeda dengan al huda (petunjuk yang benar)!

Kalau kita mau terus membicarakan syubhat-syubhat yang ada, maka akan sangat panjang. Namun, secara umum bisa kita simpulkan bahwa syubhat-syubhat itu mirip dan serupa, antara yang satu dengan yang lainnya. Walaupun demikian, saya akan sebutkan satu syubhat lagi yang telah mereka lontarkan.

Mereka mengatakan bahwa as-Salafiyyun sangat fanatik terhadap para ulama mereka!

Kita -walillahil hamd- tidak mengenal fanatisme, melainkan kepada al haq! Kalau sampai ada yang datang kepada kita orang awam yang bukan ulama, atau penuntut ilmu, atau siapapun orangnya, maka tidak ada antara kita dan al haq perseteruan dan permusuhan sama sekali. Bahkan kita berkeyakinan dan menganggap al haq adalah sesuatu yang manis dan indah.

Maka, jika para pendusta yang berkata-kata bohong itu ingin menjuluki dan menamakan suatu sikap fanatisme terhadap al haq dan berpegang teguh dengan al haq dengan sebutan fanatisme terhadap para ulama, maka lakukanlah!

Sungguh orang-orang kafir terdahulu pun telah menamakan dan menyifati hujjah Nabi Nuh عليه السلام dengan sebutan jidal (perdebatan). Maka, tidak ada masalah sama sekali, jika para pendusta yang baru (bermunculan kini) ingin menamakan konsistensi ahlul haq (orang-orang yang berpegang teguh dengan al Haq) terhadap al haq dengan sebutan fanatisme.

Akan tetapi walaupun demikian, sesungguhnya kenyataan yang jelas-jelas nyata dan tidak seorang pun yang dapat menolaknya; kita berkeyakinan dan menganggap para ulama kita adalah manusia biasa seperti yang lainnya. Bisa salah dan bisa benar. Mungkin tahu, dan mungkin pula tidak tahu.

Kita selalu angkat tinggi-tinggi perumpamaan al Imam Malik, Imamu Daril-Hijrah (Imam di Madinah pada zamannya). Bagaimanakah tatkala beliau ditanya dengan empat puluh sekian pertanyaan, dan yang ia jawab sekitar lebih dari tiga puluh lima pertanyaan? Seluruhnya beliau jawab dengan perkataan "La adri" (Saya tidak tahu).[15]

Betapa banyak permasalahan yang kami (Syaikh Ali bin Hasan) berbeda pendapat dengan Masyayikh (guru-guru) kami dan para ulama besar kami. Seperti Syaikh Ibnu Baz, Syaikh Ibnu 'Utsaimin, Syaikh al Albani. Tetapi kendati pun demikian, perbedaan kami dengan mereka semua, tidaklah membuat kami (jauh dari mereka). Bahkan kami justru semakin cinta mereka, semakin dekat dengan mereka, semakin erat hubungan kami dengan mereka dan orang-orang yang sejalan dengan mereka.

Sekali lagi, silahkan para pendusta menamakan hal ini dengan nama fanatisme! Sama sekali tidak bermasalah bagi kita. Bahkan hal ini justru membahayakan diri mereka sendiri! Bahkan, silahkan beri nama "fanatisme golongan"! Tidak membahayakan kepada kita sama sekali! Justru hal itu menyebabkan bahaya pada diri mereka sendiri!

Mereka terus melontarkan tuduhan-tuduhan ketika mereka sendiri telah melakukan fanatisme dan telah salah dan keliru dalam memahami hakikat fanatisme! Alangkah lebih baik, seandainya fanatisme yang mereka praktekkan adalah fanatisme kepada orang-orang yang sederajat dengan para ulama kita!

Namun yang amat disayangkan, fanatisme mereka justru ditujukan terhadap orang-orang bodoh; terhadap orang-orang remeh dan kecil; terhadap orang-orang tidak berguna; yang justru telah menggiring mereka untuk berbuat fanatisme dan mendukung mereka sendiri! Tanpa ada hujjah! Tanpa haq!

Mereka orang-orang yang tidak mengerti al haq, tidak mengerti pengetahuan tentang ilmu dan hujjah! Mereka sekedar orang-orang yang pintar bicara, pandai menghias dan merangkai kata-kata semata! Sedangkan Rasulullah صلی الله عليه وسلم telah bersabda :

...
إِنَّ مِنَ الْبَيَانِ لَسِحْرًا
. …

“Artinya : Sesungguhnya sebagian dari penjelasan terdapat sihir” [16]

Adapun kita, maka kita selalu berusaha berangkat dan berbuat dari ilmu syar'i, dari al Kitab dan as-Sunnah, seperti perkataan seorang ulama berikut:

Ilmu adalah "Allah berfirman", "Rasulullah bersabda",
"Sahabat berkata", dan bukan perancuan (pengaburan).
Bukanlah ilmu, (jika) engkau tegakkan perselisihan dengan cara yang bodoh, (perselisihan antara sabda) Rasul dan pendapat seorang yang faqih (pandai ilmu).[17]

Inilah pedoman kita! Dan itulah fanatisme mereka!

Hendaknya setiap orang introspeksi terhadap apa-apa yang telah ia lakukan, sebagai bekal persiapan menghadap Allah l ; karena hanya ada dua pilihan saja, ke surga atau ke neraka!

Demikianlah yang dapat kami ungkapkan, dengan senantiasa memohon ampunan Rabb kita Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Sesungguhnya hanya Dia-lah yang mampu memberikan ampunan.

Dan shalawat, salam serta berkah, mudah-mudahan senantiasa Allah limpahkan kepada Nabi kita Muhammad, para keluarga, dan seluruh sahabatnya. Wa akhiru da'wana 'anil-hamdu lillahi-Rabbil-'alamin.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 01/Tahun XI/1428H/2007. Disunting dari muhadharah di Masjid Islamic Center Jakarta, Ahad, 23 Muharram 1428H/11 Februari 2007M, Diterjemahkan oleh Ustadz Abu 'Abdillah Arief B. bin Usman Rozali]
_________
Foote Note
[14]. Hadits shahih riwayat Ibnu Majah (1/16 no. 43) dan lain-lain, dari hadits Al-Irbadh bin Sariyah رضي الله عنه..Ini lafazh dalam Sunan Ibnu Majah. Dan Syaikh Ali bin Hasan membawakannya dengan lafazh yang mendekati dan mirip dengan lafazh ini. Lihat juga As-Silsilah Ash-Shahihah (2/610 no. 937)
[15]. Lihat kisahnya dalan Siyaru A’lamin Nubala (8/77)
[16]. HR Al-Bukhari (5/1976, 2176 no. 4851, 5434) dari Abdullah bin Umar رضى الله عنهما, Muslim (2/594 no. 869) dari Ammar bin Yasir رضي الله عنه, dan lain-lain. Adapun makna hadits ini, di antaranya adalah : sebagian penjelasan orang ada yang mampu membuat hati orang lain yang mendengarnya terpengaruh dan terbawa, walaupun kepada sesuatu yang tidak haq. Lihat An-Nihayah fi Gharib Al-hadits wal Atsar (1/759)
[17]. Bait-bait syair ini dibawakan oleh Imam Ibnul Qayyim rahimahullah. Lihat Fawa’id al-Fawa’id hal. 238
Kategori: Fokus Utama
Sumber: http://www.almanhaj.or.id
Tanggal: Selasa, 17 April 2007 10:06:51 WIB